Jumat, 09 Mei 2014

Andi, Mainan & Rumput Goyang



Pagi itu pukul 10 kurang 4 menit, suasana perumahan masih seperti biasa, seperti yang kau kira. Saat itu Andi tak sekolah, bukan karena tak ada biaya atau seragam yang belum kering atau malas menuntut ilmu, melainkan sekolahnya rubuh diterpa badai korupsi. Mobil-mobilan dan motor-motoran menjadi mainan bagi Andi di hari itu. Mainan itu tak hanya ia mainkan, tapi ia jaga dan rawat layaknya kekasih hati yang kau miliki.

Dijamanku dulu, sumput bata, gobak sodor, gundu atau gambaran adalah permainan yang banyak dimainkan oleh anak-anak. Dan kini, anak-anak itu sudah remaja bahkan dewasa dan suka memainkan perasaan orang lain bahkan perasaan kekasihnya sendiri. Itu hanya cerita dimasa lalu, jangan kau tiru, ambillah pelajaran darinya.  Mari kita kembali ke kisah Andi.

Di sisi lain saat Andi asik bermain, di dapur kecil rumah tipe 36, ibunya menikmati peran sebagai juru masak terenak di rumah yang bercat putih dengan beberapa noda pada dindingnya. Hari ini hari kamis dan menunya adalah sayur sop, kesukaan ayah Andi dan siapapun yang menyukainya kalau suka. Diirisnya wortel menyilang rapi agar mata sang anak tetap jernih dan terang saat melihat dunia, ya dunia dengan cahaya, cahaya sebenarnya.

Dua kegiatan berbeda itu disatukan oleh lagu yang dinyanyikan pria paruh baya dan lagu itu akan sering diputar jika terjadi bencana di sekitar dan akan menyuruhmu berbicara pada rerumputan pinggir kota dengan segala formalitasnya. Andi menghayati lagu itu dalam-dalam, sedalam lumpur lapindo yang tenggelam berita panas-panas kotoran ayam. Mobil dan motornya dimainkan berjalan sejajar, tak dibuat balapan atau saling bertabrakan bahkan dihancurkan, mainan itu ia jaga sendiri dalam kesepian.

Kini sang ibu asik menggiling bumbu dan menahan rindu. Suaminya memang bukan bang Toyib, tapi suaminya  bertulah sama, sudah tiga kali lebaran tak pulang. Tak lama dari gilingan yang telah halus, lagu legendaris dari radio itu selesai berdendang dan diganti lagu lainnya dengan meninggalkan kenyamanan serta rasa penasaran bagi Andi. Ia buru-buru menghampiri sang ibu dan memeluk erat kakinya sewajar semut berumunan pada kembang gula, kudanil berkubang di lumpur atau operasi pasar yang jarang sekali terjadi.

“mah, kenapa lagu itu nyuruh kita bertanya pada rumput yang bergoyang? Kan rumput gak bisa bicara!” Tanya Andi dengan melepas pelukannya dan menggaruk halus rambutnya yang tak berkutu.