Mungkin kau akan tertawa
dan menganggap (judul) cerpen ini hanyalah lelucon belaka, atau, bagi yang
mengenaliku akan mengira cerita ini adalah bentuk ungkapan perasaan dari
pengalaman masa lalu yang mengajarkan betapa pentingnya kekecewaan, pengabaian
yang sistemis dan massif. Ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu di awal
cerita. Ini bukanlah kisahku sebagai penulisnya, melainkan kisah yang ku
tuliskan dan hendak ku lelang untuk menyambung hidup, mempertahankan hak
setelah mendapatkan penghianatan, ketidakdugaan
yang menyeret kita kembali terjun ke jurang luka lama yang telah menyiksa tiga
puluh dua tahun lamanya.
Mereka mendekat dipenghujung waktu, waktu menjelang penentuan. Mereka memilih bergabung bersama kita,
mempertahankan hal baik yang sudah ada dan akan melanjutkannya. Bagiku, hal itu
lebih dari sebuah kabar gembira untuk kita.
Semua dipersiapkan,
meleburkan siapa kita, siapa mereka menjadi kami. Komunikasi berjalan,
silaturahim dieratkan, hingga, pada hari penentuan mereka berkata “kita satu
tujuan kawan, hanya aku memilih jalan beraspal, bukan jalan lain yang berliku
dan berbatu, itu akan membuat kami berdarah-darah”. Itulah sarannya
yang kita ikuti.
Pada pertengahan
perjalanan, semua masih sesuai rencana. Hingga hal tak terduga tiba, hujan yang
begitu deras tiba-tiba terjun ke bumi, membasahi kami dan membuat aspal yang kita lalui menjadi
licin, amat sangat licin hingga kita terjatuh, terperosok dan terhempas dan
mereka yang katanya “sejalan” tetap berdiri tegak menuju jalan keluar meninggalkan
kita yang bercucuran darah, ditampar kenyataan dan ketidakberdayaan.
Mereka sudah tiba di
tujuan
“maaf kawan, aku tak melihatmu terjatuh di jalan yang ku pilih. Aku prihatin, semoga kalian mampu sampai tujuan. Berjuanglah hingga titik darah penghabisan!” kata mereka melalui video yang tersebar dimana-mana.
“maaf kawan, aku tak melihatmu terjatuh di jalan yang ku pilih. Aku prihatin, semoga kalian mampu sampai tujuan. Berjuanglah hingga titik darah penghabisan!” kata mereka melalui video yang tersebar dimana-mana.
Itulah sekelumit kisah
penghianatan yang hendak ku lelang. Sesungguhnya aku tak menginginkan uang,
jabatan atau apapun. Aku hanya ingin tulisan ini diapresiasi dan berharap ada
pelajaran yang dapat kita renungkan dari cerita di sebuah negeri kaya raya yang
sangat lucu.
Bagaimanapun pilihan
hanya ada dua: ya atau tidak, dan semua benar munurut sudut pandang masing-masing. Aku
ingin kita tak saling meributkan pilihan itu. Marilah kita coba untuk mau mengubah
sudut pandang dari kacamata mereka, dan mereka pun baiknya begitu agar negeri
yang lucu tadi tak jadi lelucon bagi rakyatnya sendiri. Itulah impianku,
harapan yang harus tetap ada, karena dengan berharap, kita pasti bersemangat
menuju tujuan, bahkan hingga titik darah penghabisan, demi kita bersama, rakyat
Indonesia.