Dan pagi
Selalu punya emosi menghadapi hari
Minggu, 16 November 2014
Rabu, 05 November 2014
Bayi
Malam
jatuh ke bumi, meremangkan jalan-jalan. Ranum bulan tak segan menampakkan diri
dan kedinginan bersekutu sunyi. Tak ada lolongan anjing atau serigala. Desis
nyamuk di atas telinga lari terbirit, yang terdengar hanya nafas bayi. Bayi
manusia.
Sudah
dua bulan saya mengabdikan diri di tempat ini. Tempat yang menyimpan rekaman
pertumbuhan dan perkembangan anak manusia. Tempat yang bisa membuatmu tertawa
dalam tangis atau memilih tangis dalam tawa.
“bikinnya
mau, ngurusnya enggak. Bikin repot” keluh teman saya saat membersihkan seorang
bayi lelaki lalu memakaikannya popok. Saya membalas ucapan itu dengan senyum
ketika melintas di hadapnya untuk memandikan bayi lainnya.
Bersambung ....
Minggu, 26 Oktober 2014
PENGHAPUS
Siang
itu, sepulang sekolah dan suasana yang sudah sepi tiba-tiba Pak Doni
memergokiku sedang menghisap selinting ganja di samping lab kimia. Ia datang
dari belakang dengan tangan kiri yang langsung mencekik leherku dan tangan kanan meraih
satu-satunya lintingan dari mulutku. Kaleng lem yang tergeletak di sampingku
tak ia gubris, ia hanya menginginkan lintingan itu dariku.
Bersambung
….
BATU PENYEMBUH
Orang-orang
berbaris membentuk antrian yang tak karuan. Semrawut, berebut kesempatan agar
bisa merasakan manfaat ajaib dari batu yang turun dari langit. Konon ada sebuah
legenda yang dipercaya orang-orang tadi,
jika ada seseorang yang tersambar petir dan masih hidup dan ia mengepalkan
sebuah batu di tangannya, maka batu itu adalah batu penyembuh dari berbagai
penyakit setelah meminum air yang terlebih dahulu dicelupkan oleh batu ajaib
itu.
Bersambung
….
Minggu, 28 September 2014
Dilelang: Cerpen Penuh Kenangan Beserta Penghianatan
Mungkin kau akan tertawa
dan menganggap (judul) cerpen ini hanyalah lelucon belaka, atau, bagi yang
mengenaliku akan mengira cerita ini adalah bentuk ungkapan perasaan dari
pengalaman masa lalu yang mengajarkan betapa pentingnya kekecewaan, pengabaian
yang sistemis dan massif. Ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu di awal
cerita. Ini bukanlah kisahku sebagai penulisnya, melainkan kisah yang ku
tuliskan dan hendak ku lelang untuk menyambung hidup, mempertahankan hak
setelah mendapatkan penghianatan, ketidakdugaan
yang menyeret kita kembali terjun ke jurang luka lama yang telah menyiksa tiga
puluh dua tahun lamanya.
Mereka mendekat dipenghujung waktu, waktu menjelang penentuan. Mereka memilih bergabung bersama kita,
mempertahankan hal baik yang sudah ada dan akan melanjutkannya. Bagiku, hal itu
lebih dari sebuah kabar gembira untuk kita.
Semua dipersiapkan,
meleburkan siapa kita, siapa mereka menjadi kami. Komunikasi berjalan,
silaturahim dieratkan, hingga, pada hari penentuan mereka berkata “kita satu
tujuan kawan, hanya aku memilih jalan beraspal, bukan jalan lain yang berliku
dan berbatu, itu akan membuat kami berdarah-darah”. Itulah sarannya
yang kita ikuti.
Pada pertengahan
perjalanan, semua masih sesuai rencana. Hingga hal tak terduga tiba, hujan yang
begitu deras tiba-tiba terjun ke bumi, membasahi kami dan membuat aspal yang kita lalui menjadi
licin, amat sangat licin hingga kita terjatuh, terperosok dan terhempas dan
mereka yang katanya “sejalan” tetap berdiri tegak menuju jalan keluar meninggalkan
kita yang bercucuran darah, ditampar kenyataan dan ketidakberdayaan.
Mereka sudah tiba di
tujuan
“maaf kawan, aku tak melihatmu terjatuh di jalan yang ku pilih. Aku prihatin, semoga kalian mampu sampai tujuan. Berjuanglah hingga titik darah penghabisan!” kata mereka melalui video yang tersebar dimana-mana.
“maaf kawan, aku tak melihatmu terjatuh di jalan yang ku pilih. Aku prihatin, semoga kalian mampu sampai tujuan. Berjuanglah hingga titik darah penghabisan!” kata mereka melalui video yang tersebar dimana-mana.
Itulah sekelumit kisah
penghianatan yang hendak ku lelang. Sesungguhnya aku tak menginginkan uang,
jabatan atau apapun. Aku hanya ingin tulisan ini diapresiasi dan berharap ada
pelajaran yang dapat kita renungkan dari cerita di sebuah negeri kaya raya yang
sangat lucu.
Bagaimanapun pilihan
hanya ada dua: ya atau tidak, dan semua benar munurut sudut pandang masing-masing. Aku
ingin kita tak saling meributkan pilihan itu. Marilah kita coba untuk mau mengubah
sudut pandang dari kacamata mereka, dan mereka pun baiknya begitu agar negeri
yang lucu tadi tak jadi lelucon bagi rakyatnya sendiri. Itulah impianku,
harapan yang harus tetap ada, karena dengan berharap, kita pasti bersemangat
menuju tujuan, bahkan hingga titik darah penghabisan, demi kita bersama, rakyat
Indonesia.
Kamis, 25 September 2014
Pertemuan Tak Terduga
Temaram sore tak mampu membuatku berdamai dengan keresahan. Matahari pun kini siap
tenggelam ke lauatan, dan ingatan itu muncul kembali setelah duapuluh
empat tahun berlalu dengan bayangan yang tak dapat terlupakan.
***
Hubungan gelap
adalah hubungan yang kekurangan cahaya, remang jadinya. Itulah kegelapan yang
membuat hatiku tersayat luka lama, perlahan, perih, seperti harapan
disiram debu kepalsuan.
“Jadi,
karena kau takut kehilanganku kita tak bisa bersama?”
“tidak,
bukan itu maksudku”
“katamu
kau mencintaiku”
“iya,
aku mencintaimu”
“tapi
kenapa kita tak bisa bersama?”
“itu
tak penting, yang terpenting adalah kau baik-baik saja”
“tapi
itu penting bagiku dan hubungan kita setelah kau memaksaku menggugurkan anak ini”[1]
Bersambung ....
[1]Terinspirasi dari percakapan antara
Peter Parker dan Gwen Stacy dalam Film The Amazing Spiderman II.
Langganan:
Postingan (Atom)