Jumat, 03 April 2020

Rebahan Perspektif Al-Qur’an


        Rebahan bisa dimaknai sebagai proses berbaring. Kata ini juga bisa bermakna beristirahat. Yaitu, memberikan kesempatan pada tubuh untuk mengembalikan energi setelah melakukan aktivitas. Kata rebahan juga memiliki istilah lain yaitu leyeh-leyeh atau mager (males gerak). Kata ini mengandung makna tiduran; tidak melakukan aktivitas yang berat, bahkan biasanya hanya cenderung memainkan hp—entah untuk apa saja yang intinya mengahbiskan kuota. Rebahan, bagi kaum intelektual bermakna menyimpan dan mengoptimalkan tenaga—padahal maknanya bisa lain cerita. Rebahan adalah solusi luar biasa bagi para pemalas yang tidak memiliki visi dalam hidupnya. Rebahan dijadikan tameng, bukan sebagai sarana untuk berdamai dengan keadaan. Rebahan ini sungguh dielu-elukan oleh pengikutnya dengan berslogan “rebahan adalah kita, kita adalah rabahan”. Itulah makna rebahan yang hakiki bagi sebagian orang. Sebab sesungguhnya, rebahan adalah nikmat yang harus disyukuri.
       Sebagai makhluk yang diciptakan dalam sebaik-baik bentuk dan potensi, manusia harusnya memaksimalkan waktu dalam hidupnya agar tidak menjadi orang yang merugi. Manusia yang baik tentu harus memiliki perencanaan dan tujuan hidup guna meraih ketenangan dan kebahagiaan. Untuk meraih tujuan hidup tersebut diperlukan mujahadah serta konsistensi agar tetap pada jalan yang lurus. Itu semua tentu dilakukan tidak dengan mengisi waktu hanya dengan leyeh-leyeh, rebahan atau mageran.
       Islam, sebagai agama yang penuh cinta, mengajarkan agar umatnya selalu beraktivitas, apa pun itu. Aktivitas ibadah maupun kegiatan sosial semua harus dilakukan dengan baik dan tidak merugikan pihak lain. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki perencanaan kegiatan yang matang, yang pula dikondisikan dengan keadaan. Ingat, tidak ada istilah mager atau rebahan dalam Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an menyuruh untuk mengaktualisasikan diri dalam bpelbagai kegitan. Mari tengok Q.S Al-Insyirah (7-8) yang singkat namun luas sekali maknaya
فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ  ٧ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب  ٨
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”


Dari ayat di atas, banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil, di antaranya:
1.    Harus memiliki visi dan misi serta tujuan dalam kehidupan
       Hidup artinya bergerak; beraktivitas. Untuk bergerak dan beraktivitas itu tentu diperlukan perencaan yang tertuang dalam visi dan misi serta tujuan. Jadikan hidup yang indah ini sebagai sarana berbagi kasih sayang, sembari meningkatkan kualitas diri sehingga terhindar dari seburuk-buruk tempat yang ada. Perencanaan ini harus didasari oleh pengetahuan serta kesadaran diri, agar visi dan misi tersebut disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki.
2.    Bersungguh-sungguh dalam menjalan aktivitas
       Sunggug-sungguh dalam menjalankan semua aktivits, termasuk ibadah, bekerja, ataupun kerja sosial lainnya harus menjadi pondasi utama. Selanjutnya, kegiatan tersebut harus dilakukan efektif dan efisien. Sehingga tidak memakan waktu, tenaga bahkan harta yang kemudian justru memberatkan. Berhentilah dalam beraktivitas hanya karena dua hal, pertama karena lelah, kedua karena selesai. Kesehatan adalah hal yang utama selain beresnya suatu perkara. Percuma suatu kegiatan selesai, tapi yang melakukan tidak bisa menikmati hasil usahanya. Proporsionallah dalam beraktivitas, kira-kira demikian. Apabila lelah, beristirahat; bukan rebahan selama mungkin. Rebahan hanya sejenak, dijakan fase menarik napas untuk melanjutkan aktivitas.
3.    Tidak memiliki waktu luang yang terbuang sia-sia
       Waktu adalah satuan yang terus maju. Tidak dapat berhenti atau ditarik mundur. Sebab, manusia tak memiliki kuasa di atas waktu. Manusia lemah di dalam waktu. Untuk itu, sebagai pribadi yang baik hendaknya kita memaksimalkan waktu yang dimiliki. Gunakan untuk untuk meningkatkan keimanan dan amal saleh. Keimanan adalah keyakinan berujung pada ketakwaan. Sedangkan amal saleh adalah perbuatan yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama makhluk.
4.    Berharap pada Tuhan Yang Maha Cinta
       Hanya Allah Tuhan Yang Maha Cinta yang telah memberi semua nikmat kepada kita yang tak terhitung jumlahnya. Jadi, wajarlah bila pribadi lemah seperti kita ini hanya bersandar pada Tuhan Semesta Alam. Tuhan yang mengusai makhluk. Usaha telah kita lakukan dengan sungguh-sungguh, maka tidak akan lengkap rasanya tanpa permohonan dan pertolong Allah di dalamnya. Itulah menagapa, kita dianjurkan pual dalam melakukan segala hal harus dimulai dengan membaca basmalah; menghadirkan selalu Allah dalam diri dan aktivitas kita seraya memohon ridlo-Nya

Rabu, 10 Februari 2016

PERKARA SEBUTIR KELAPA MUDA



Kata dokter, sekitar 10 hari ke depan perut isterinya akan bongkar muat. Maka, jadilah ia suami yang siap siaga sebab ini adalah anak pertama bagi mereka berdua. Ia akan memilih langsung pulang ke rumah ketika jadwal piket malamnya rampung. Ia juga akan menolak bila diajak mampir ke tempat terang atau bahkan ke tempat yang remang sekalipun.

Hari itu ia begitu sibuk mengurus perlengkapan tugas rekan-rekannya. Maklum, dua hari lalu terjadi teror dan baku tembak di ibu kota yang menyebabkan tiap aparat keamanan harus eksra menciptakan suasana kondusif di masyarakat. Walhasil karena terlalu sibuk ia tak menyadari bahwa si isteri mengiriminya pesan singkat agar ketika pulang ia dibawakan sebutir kelapa muda yang legit dagingnya.

Seperti kita tahu, bahwa bagi setiap wanita yang perutnya membesar mereka selalu menginginkan hal-hal yang mengada-ada. Katanya, itu kehendak si jabang bayi yang harus dituruti. Menyadari adanya pesan dari isteri, si suami kalang kabut. Ia terlihat seperti orang linglung: hanya berdiri di muka pos jaga dan mengabaikan malam yang kian lahap menangkap sunyi. Bagaimana ia tak pusing, ia harus mencari penjual dugan pukul sembilan malam. Mustahil, bukan?  

Disela kebingungannya, ia teringat bahwa di ujung jalan kampung sebelah rumahnya ada rumah seorang janda yang di halamannya tertancap pohon kelapa hijau. Ia begitu paham tentang pohon itu sebab ia yang menanam. Kini, ia kembali kebingungan. Bagaimana caranya agar ia kembali menemui mantan isterinya untuk meminta sebutir kelapa muda.

Kamis, 04 Februari 2016

Berdamai

(kepada Sylvia Plath dari ayahmu)

berdamailah Sylvi, damai
pakai lagi sepatu hitam itu
lekas kita bercerita di taman kota
di sana, burung-burung dan bunga
sudah lama menunggu

ayolah Sylvi, bergegas
siapa yang tahu kalau aku sudah mati?

Selasa, 26 Januari 2016

Jawaban Kerinduan



Kau rasa, ia masih di antara kalian.Ternyata telah berlalu.
Maka, kau harus siap digiring ke dalam lubang.

Sebab, sedari awal ia tak butuh kepastian
Yang penting hanya rindu

Kalian duduk berhadapan tak saling pandang
Timur dan barat jadi arah yang kalian tuju.

Teh hangatnya  mulai dingin dan
Susu cokelatmu sudah menyusut

Ia terlihat bingung, jemari tangannya memilih mengetuk-ngetuk
meja ketimbang kembali memulai percakapan

“jika ia tak menikahimu, aku siap”
Ucapnya yang buatmu merasa canggung
Dan berharap pertemuan ini tak pernah terjadi
Tak pernah ada selamanya

Meski
Ia selalu hadir untukmu
Bagaimana ketika ia buatmu tertawa
       di waktu yang tepat
dan menepi di saat yang pasti

Mungkin,  kau kurang mengingat
Bagaimana kalian bertemu dan berpisah
Itu sebabnya kau masih merasa di antara kalian

Saat ini, yang penting baginya hanya jawaban kerinduan
(bukan kepastian)


Minggu, 18 Oktober 2015

Kawin

1.1     Di minggu pagi itu, kau bangun siang setelah paginya solat subuh lalu tidur lagi. Kau bangun setelah perutmu keruyuk dan usai solat duha kau mendapat ide cemerlang.
1.2   Setelah mengenakan batik, celana dasar dan sepatu pantofel, kau siap berkunjung ke acara kawinan lalu makan sepuasnya tanpa memasukkan amplop ke kotak yang telah disediakan.
1.3        “mereka kawin senang-senang, tak perlu kesenangan (uang) lagi” katamu.
1.4        Dan tahukah kau perihal kawin? Yaitu kata kerja yang artinya menikah menurut KBBI
1.5     Maka, jika kau siap dan mampu, kawinlah dengan orang yang kau mau dan dia juga begitu. Seperti orang-orang terdahulu.
1.6     Dan tahukah kau kapan waktunya kawin? untuk melangsungkan perkawinan seseorang yang belum mencapai usia 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua.[1]
1.7        Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembiln belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun.[2] Dan anak-anak yang lahir dari rahim ibunya bukan disebabkan orang tua yang bersenag-senang, melainkan mereka ingin bersenang-senang dengan anaknya.


                [1] Pasal 6 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
                [2] Pasal 7 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

Wisuda

1.1     Pagi buta itu aktivitas sudah dimulai, meski acara baru akan dimulai pukul delapan (bila sesuai jadwal).


1.2    Seorang anak yang masih mengantuk bertanya pada ibunya “mah, kenapa sih wisuda itu penting banget? kan cuma geser kucir”.


1.3   Si ibu yang baru saja selesai berhias akhirnya menjawab “ibu juga gak tau, yang pasti itu penting”.


1.4   Memang, yang nampak dari wisuda hanya perayaan, tapi sebelum itu ada kepayahan dan perjuangan.


1.5    Sudah kukatakan berulang kali, wisuda itu biasa-biasa saja; tiada yang istimewa. Hal terpenting adalah ilmu yang kau peroleh dan manfaatnya.

1.6 Dan orang-orang yang bersekolah lalu bekerja kemudian menikah dan punya anak adalah tanda-tanda bahwa hidup (di dunia) hanyalah perputaran posisi bagi mereka yang berfikir.

Istirahat di Malam Hari

1.1        Demi malam.
1.2        Apabila langit gelap ditemani bulan dan bintang.
1.3       Lampu-lampu di kamar tidur mulai diredupkan (dimatikan). Saat itulah waktunya untuk tidur, beristirahat di waktu malam.