Berkunjung sendiri ke tempat
yang pernah kau sambangi bersama mantan kekasih adalah bentuk independensi
serta penutup rasa rindu untuk kembali bersamanya meski kau belum punya
pengganti. Alasannya, kau “cuma” berkunjung, tak ada maksud lain, hanya itu, walau
kata “cuma” ada lebihnya. Kisah ini ku peroleh dari Marno yang sabtu lalu
memiliki janji bertemu dengan Marni dan Julekha. Kau tau, Marno dan Marni
adalah kawan lama, lama sekali, bahkan sebelum mereka ada di bumi, mereka telah
saling mengenal satu sama lain. Perjanjian itu bukanlah perjanjian Roem-Royen
atau Linggarjati yang sangat penting, namun perjanjian di sebuah warung kopi
pinggir jalan itu sangat menegangkan, tegang bagi mereka yang menegang.
Dua hari sebelum sabtu itu,
saat Marno menjajah sawahnya, datanglah Marni mengahmpiri dan membawa kabar
gembira untuknya. Marni ingin menjodohkan Marno dengan Julekha, sepupunya.
Marno tak kalap mendengarnya, ia senang gembira dan tak sabar untuk bersua,
disiapkan segalanya unutk pertemuan pertama. Saat itu tahun 1974, tak ada Path,
Line, Twitter, Facebook atau freindster yang bersarang laba-laba. Di tahun itu Marno
berupaya untuk memikat, meski ia dicomblangi. Marni melakukan percomblangan karena
tak tega dengan kondisi Marno yang itu-itu saja, meski tak jauh berbeda dengan
Julekha. Marni yang satu angkatan dengan Marno di sekolah rakyat paham betul
wanita macam apa yang Marno mau, dan percomblangan ini sudah tepat, tepat waktu
dan tepat sasaran.
Di warung kopi milik Mak Ijah
itu, suasana pengunjung lumayan ramai, ada 4 meja yang masing-masing meja ada 4
kursi pula. Meja 1 adalah tempat bagi Marno, Marni dan Julekha, 2 meja lainnya
diisi keluarga Julekha yang ingin mengintai Marno mendekatinya, meja lainnya
dibayar agar tetap kosong dengan bangku yang kosong juga. Jadilah pertemuan di
warung kopi itu sebagai pertemuan yang direncanakan manusia dan Tuhannya. Marno
tiba pukul 4.14 sore, sedang Marni, Julekha dan yang lainnya sudah ada sejak
Ashar tiba. Marno kikuk saat itu, ini adalah pengalaman pertama baginya.
“silakan
duduk”
Ujar
Marni sembari menyalami Marno dan memainkan jari tengahnya.
Marno
terkejut dengan sambutan itu dan tak membalasnya, lagi-lagi Marno kikuk
dibuatnya. Setelah merebahkan bokongnya di kursi kayu yang tak ada
empuk-empuknya, Marni kembali memulai pembicaraan.
“kenalkan,
ini Julekha”
Julekha
menjulurkan tangan ke arah Marno dan Marno langsung menyambar sambil bergetar.
“Marno
Bin Selamet” balas Marno
Kau
tau, jaman itu penggunaan nama yang diikuti dengan kata bin akan memberikan dampak
yang berbeda, tujuannya agar Marno selamat dunia akherat, bukan karena nama
bapaknya Selamet. Itu adalah trik yang biasa dilakukan orang-orang jaman dulu.
Sama sepertimu yang kini bersalaman dengan sang kekasih dan berkata “masa
depanmu” yang beraharap ia menjadi isterimu kelak.
Kembali
ke pertemuan di warung kopi itu, setelah Marno dan Julekha bersalaman, Marni
memecah keheningan dengan memanggil asisten Mak Ijah untuk memesan minuman.
Tanpa buku menu dan tanpa tawaran pilihan yang tepat, Marni memesan teh susu
dan Julekha yang terlihat gugup meminta minuman yang sama. Sedang perihal Marno,
ia memilih kopi arang, itu membuatnya gagah ketika menelan arang, bukan kopi
hitam.
Warung
Mak Ijah makin hening, saudara Julekha yang kepo terus saja menatap tajam ke arah
Marno, menyadari hal itu, Marni memberikan kode kepada mereka untuk menyingkir
dari sana. Akhirnya Marni pergi meninggalkan meja 1 yang diikuti saudara Julekha
yang berjumlah 7. Jam tua jaman Belanda berangka 4.54 Suasana makin hening dan
Marno masih kikuk.
“kamu
lelaki pertama yang aku temui setelah 14 tahun di bui”
Marno
tersendak mendengar hal itu, dan ketika ia ingin menjawab, Julekha kembali
mencerocos saja, begini ucapnya
“bui
itu kamarku, bukan penjara besi”
Marno
hanya mengangguk semabari kedua tangannya memeluk erat cangkir besi berisi
kopi. Dan dengan kikuk, Marno menjwab
“ini
pertama kali aku dicomblangi” dan langsung menenggak kopi.
“aku
ingin kita saling mengenal lebih jauh” cerocos Julekha
“baik,
apabila itu maumu, aku permisi dulu, masih ada urusan duniawi, aku permisi”
jawab Marno
Setelah
izin dan meninggalkan uang monyet 500 rupiah di meja, Marno pergi dari situ dan
dari Julekha yang sendiri, sendiri dengan harapan dapat berdua dengan Marno
tentunya.
Keesokan
harinya kami berkumpul di tempat biasa untuk hal yang biasa pula. Saat itu jam
1 siang dan suasana warteg mpok Jujum sanagat ramai; tempat antrenya padat
merayap bak semut berbaris yang menuju gelas sisa tehmu pagi tadi. Aku, Bejo
dan Mrno harusnya berada di tempat ini kemarin malam pukul 7, tapi hal itu tak
akan poernah terjadi karena Marno mengalami kesialan yang tak akan mudah untuk
ia lupakan dalam waktu yang cukup lama. Rencananya kami akan membahas urusan
duniawi yang makin hari makin runyam.
Malam
itu bukan malam jumat kliwon, tapi malam dimana Marno mengendarai motor dengan
kecepatan biasa-biasa saja: tak ngebut dan pelan, santai. Setelah membelah
jalan yang semuanya beraspal Marno terperosok ke selokan yang lumayan dalam.
Marno hanya luka-luka tapi motor kreditannya itu hancur, seperti angannya pada
Julekha: remuk berkeping-keping. Marno terjun ke selokan berkedalaman 30 cm itu
disebabnya pandangannya terhalau cahaya yang menyilaukan. “ada cewek cakep,
untung gak ketabrak” ujar Marno dan kami prihatin atas apa yang ia alami. “woy,
kalo bawa motor liat-liat dong, kan eke nyaris ketabrak, iih” kata manusia itu
dan kami tertawa sejadinya. Kau tau, terkadang kesedihan datang bersama
kebahagiaan, ruwet memang. Tapi biarlah, kehidupan harus terus berjalan, tak
perduli kau patah hati, patah tulang atau tak ada yang patah, hidup harus terus
berjalan.
Bersambung
………