Kata dokter, sekitar 10 hari ke depan perut
isterinya akan bongkar muat. Maka, jadilah ia suami yang siap siaga sebab ini
adalah anak pertama bagi mereka berdua. Ia akan memilih langsung pulang ke
rumah ketika jadwal piket malamnya rampung. Ia juga akan menolak bila diajak
mampir ke tempat terang atau bahkan ke tempat yang remang sekalipun.
Hari itu ia begitu sibuk mengurus
perlengkapan tugas rekan-rekannya. Maklum, dua hari lalu terjadi teror dan baku
tembak di ibu kota yang menyebabkan tiap aparat keamanan harus eksra
menciptakan suasana kondusif di masyarakat. Walhasil karena terlalu sibuk ia
tak menyadari bahwa si isteri mengiriminya pesan singkat agar ketika pulang ia
dibawakan sebutir kelapa muda yang legit dagingnya.
Seperti kita tahu, bahwa bagi setiap wanita
yang perutnya membesar mereka selalu menginginkan hal-hal yang mengada-ada. Katanya,
itu kehendak si jabang bayi yang harus dituruti. Menyadari adanya pesan dari
isteri, si suami kalang kabut. Ia terlihat seperti orang linglung: hanya
berdiri di muka pos jaga dan mengabaikan malam yang kian lahap menangkap sunyi.
Bagaimana ia tak pusing, ia harus mencari penjual dugan pukul sembilan malam. Mustahil,
bukan?
Disela kebingungannya, ia teringat bahwa di
ujung jalan kampung sebelah rumahnya ada rumah seorang janda yang di halamannya
tertancap pohon kelapa hijau. Ia begitu paham tentang pohon itu sebab ia yang
menanam. Kini, ia kembali kebingungan. Bagaimana caranya agar ia kembali
menemui mantan isterinya untuk meminta sebutir kelapa muda.