Rabu, 10 Februari 2016

PERKARA SEBUTIR KELAPA MUDA



Kata dokter, sekitar 10 hari ke depan perut isterinya akan bongkar muat. Maka, jadilah ia suami yang siap siaga sebab ini adalah anak pertama bagi mereka berdua. Ia akan memilih langsung pulang ke rumah ketika jadwal piket malamnya rampung. Ia juga akan menolak bila diajak mampir ke tempat terang atau bahkan ke tempat yang remang sekalipun.

Hari itu ia begitu sibuk mengurus perlengkapan tugas rekan-rekannya. Maklum, dua hari lalu terjadi teror dan baku tembak di ibu kota yang menyebabkan tiap aparat keamanan harus eksra menciptakan suasana kondusif di masyarakat. Walhasil karena terlalu sibuk ia tak menyadari bahwa si isteri mengiriminya pesan singkat agar ketika pulang ia dibawakan sebutir kelapa muda yang legit dagingnya.

Seperti kita tahu, bahwa bagi setiap wanita yang perutnya membesar mereka selalu menginginkan hal-hal yang mengada-ada. Katanya, itu kehendak si jabang bayi yang harus dituruti. Menyadari adanya pesan dari isteri, si suami kalang kabut. Ia terlihat seperti orang linglung: hanya berdiri di muka pos jaga dan mengabaikan malam yang kian lahap menangkap sunyi. Bagaimana ia tak pusing, ia harus mencari penjual dugan pukul sembilan malam. Mustahil, bukan?  

Disela kebingungannya, ia teringat bahwa di ujung jalan kampung sebelah rumahnya ada rumah seorang janda yang di halamannya tertancap pohon kelapa hijau. Ia begitu paham tentang pohon itu sebab ia yang menanam. Kini, ia kembali kebingungan. Bagaimana caranya agar ia kembali menemui mantan isterinya untuk meminta sebutir kelapa muda.

Kamis, 04 Februari 2016

Berdamai

(kepada Sylvia Plath dari ayahmu)

berdamailah Sylvi, damai
pakai lagi sepatu hitam itu
lekas kita bercerita di taman kota
di sana, burung-burung dan bunga
sudah lama menunggu

ayolah Sylvi, bergegas
siapa yang tahu kalau aku sudah mati?

Selasa, 26 Januari 2016

Jawaban Kerinduan



Kau rasa, ia masih di antara kalian.Ternyata telah berlalu.
Maka, kau harus siap digiring ke dalam lubang.

Sebab, sedari awal ia tak butuh kepastian
Yang penting hanya rindu

Kalian duduk berhadapan tak saling pandang
Timur dan barat jadi arah yang kalian tuju.

Teh hangatnya  mulai dingin dan
Susu cokelatmu sudah menyusut

Ia terlihat bingung, jemari tangannya memilih mengetuk-ngetuk
meja ketimbang kembali memulai percakapan

“jika ia tak menikahimu, aku siap”
Ucapnya yang buatmu merasa canggung
Dan berharap pertemuan ini tak pernah terjadi
Tak pernah ada selamanya

Meski
Ia selalu hadir untukmu
Bagaimana ketika ia buatmu tertawa
       di waktu yang tepat
dan menepi di saat yang pasti

Mungkin,  kau kurang mengingat
Bagaimana kalian bertemu dan berpisah
Itu sebabnya kau masih merasa di antara kalian

Saat ini, yang penting baginya hanya jawaban kerinduan
(bukan kepastian)