Jumat, 13 Maret 2015

(PHP) Penerima Harapan Palsu



“aku ngerasa udah deket banget sama dia, kemana-mana jalan bedua, sampe udah dikenalin ke ortunya. Selang dua hari gak ada komunikasi, eh dia jadian sama yang lain. PHP banget, kan!”

Curhatan seorang kepada temannya di sebuah tempat makan yang tak sengaja terdengar oleh saya. Suasananya gerimis saat itu, dan wanita yang tadi bercerita kini sudah berdiri di tengah jalan. Ujan-ujanan. Atau menghujamkan diri dengan air hujan, entahlah. Hal yang menarik dari cerita perempuan itu adalah mengenai perkara PHP, akronim dari Pemberi Harapan Palsu. Begitulah arti yang umumnya diketahui orang banyak. 

Setelah pramusaji mengantarkan pesanan saya dan saya mulai memakannya, tiba-tiba saya mendapat pemahaman baru mengenai arti dari PHP, yaitu Penerima Harapan Palsu. 

Tak mungkin jika hanya si pria yang mendapat gelar PHP (Pemberi Harapan Palsu) setalah apa yang terjadi dengan si wanita. Di lain sisi, si wanita juga menikmati pemberian sang pria, kan? Saya pikir pemberi atau penerima memiliki porsinya masing-masing asal tidak mengambil porsi orang lain.
Eh iya, saya sedang makan. 
Mari makan….

Kode-Modus



Tahun masehi sudah menginjak ke angka 2015, teknologi di segala bidang terus berkembang. Ilmu pengetahuan berjalan beriringan mendampingi teknologi yang sering disingkat menjadi Iptek, ilmu pengetahuan dan teknologi.  Manusia sebagai pelaku Iptek tak mau ketinggalan, mereka berkembang, budaya juga ikut berkembang. Keduanya tak dapat dipisahkan meski saling berkaitan.

Trend pergaulan antar manusia di tahun ini hasil menoleh dari tahun-tahun sebelumnya. Segala macam hubungan itu juga ikut berkembang sesuai perkembangan Iptek tadi. Sebagai contoh, konsep kode-kodean yang dapat kita jumpai pada hubungan pendekatan, pacaran bahkan ke ranah perkawinan. 


Suatu hari ada seorang ibu yang memuji tas Prada di depan suaminya setelah melihat tas itu terpajang di etalase sebuah toko. Sang suami hanya menegaskan apa yang diucapkan isterinya sebagai suatu kebenaran bahwa memang tas Prada itu bagus. Si suami tak memahami bahwa di balik ucapan “pah, tas Pradanya bagus, ya” terselip ucapan lain sang isteri “pah, beliin mamah tas ini dong”

Sederhananya, kode diartikan sebagai upaya menyampaikan keinginan dengan tidak melakukannya secara terang-terangan kepada orang yang diharap mampu memenuhi keinginan tersebut dengan konsekuensi hal itu agak susah dipahami. 


Hal ini tak dapat dihindari sebagai budaya yang diterapkan secara umum oleh peminatnya. Kode-kodean yang berarti kode secara jamak, tak melulu identik dilakukan oleh perempuan. Sama halnya seperti kasus nusyuz yang identik sebagai kedurhakaan isteri kepada suaminya, padalah durhaka kepada pasangan bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk suami. 


Untuk mengimbangi kode yang telah diidentikkan dengan kaum hawa, kaum adam mengambil langkah yang hampir serupa, yakni memilih modus. Modus yang biasa dilakukan oleh kaum adam dalam upaya menjalin hubungan dengan lawan jenis bisa dianalogikan sebagai upaya sambil menyelam minum air. 


Modus yang sangat gampang terendus adalah modus mengantar pulang, bisa pulang sekolah, kuliah, kerja dan lainnya, asal jangan mengantar pulang ke Rahmatullah, hehehe. 


Intinya, si pria selain bisa mengantar gadis idamannya barang sesaat, ia juga bisa menambah pengalamannya berkendara menaklukkan kejamnya jalan raya. Tapi modus tak melulu diawali dari niat modus yang sungguh-sungguh dari dalam hati. Bisa jadi modus itu dimulai dengan keberhasilan sang pria memahami kode dari sang gadis “duh, angkotnya lama banget sih”


Begitu banyak kode dan modus yang berkembang di kehidupan manusia sesuai kebutuhannya. Apapun itu, baik kode maupun modus akan tetap ada selama Iptek terus berkembang. 


Wassalam.