Jumat, 20 Desember 2013

Tipu Muslihat



Ini adalah sekelumit kisah Marno yang mencintai Marni, gadis desa sebelah yang selalu ia jumpa di ladang yang seberapa. Awal mereka jumpa terjadi ketika kandungan ibu Marno berusia 39 hari, 23 jam, 35 detik. Saat itu Marno hendak dititipkan oleh Tuhannya ke kandungan sang ibu. Ketika Marno ditanya oleh Tuhan mengenai Ke-Esaan Tuhannya, disitulah Marno melirik Marni tanpa busana untuk pertama kali dan langsung merasakan getaran cinta dan dibawah perutnya. Marno dilahirkan ke dunia lebih cepat 24 menit 14 detik dibanding Marni. Meski nama mereka seperti bayi kembar, mereka bukanlah sodara seayah, sekandung atau sepersusuan. Mereka adalah pasangan yang diharapkan Marno.

Marni adalah bunga desa, tapi tak perawan lagi. Ia kehilangan mahkota yang dicuri setan tepat 40 hari setelah ia mendengar kabar ada pesawat yang hilang di lautan. Namun, apapun itu, Marno tetap menanti Marni, mencintai dan hanya bisa memandangnya dari gubuk reot tempat menyembunyikan ari dari sengat matahari. Di hari ke 40 itu, Marni merasa sakit di perutnya. Merasa ada makhluk tak halus yang menggerayangi tubuhnya. Itu hanya ia ceritakan pada ibu kandungnya, meski ia punya ibu tiri juga. Tak ada yang tau mengenai hal itu, kecuali mereka yang tau dan Tuhannya.

Sabtu pagi, sebagaimana biasa bukan hari libur bagi petani, Marno menuju ladang dengan bibir yang tak dapat tertutup rapat, memang begitu sejak lahir. Kata ibunya, itu akibat ia selalu menyusu hingga usia 17, entah itu alasan yang mengada atau menang ada. Marno menggantungkan cangkul di pundak kanan dan sebotol air bening lengkap dengan pigur sachet di tangan kiri, itu membuatnya merasa gagah di tanah yang ia jajah.

Seperti biasa, ia membersihkan rumput yang menyeruak dinatara padi harapan bangsa. Rumput yang sebenarnya memberikan kita oksigen yang digratiskan Tuhan. Meski terkadang Marno ragu, karna ia merasa bagai rumput itu dalam hubungan yang terjalanin antara Marni dan mandor Teguh. Hubungan mereka terjadi karena cinta lokasi, tapi ku pikir mereka bercinta di lokasi, layaknya suami-isteri.

Dicangkulnya rumput itu dengan emosi, meluapkan ketidaknyamanan mata melihat orang dicinta bersama yang lain. Marno berteriak, bak orang yang menderita kesedihan tiada tara. Keringat anyep dan asin dari dahinya bercampur air mata mambanjiri sawah. Marno tak dapat mengelak, Marni adalah cinta sejatinya. Kecemburuan itu membuat Marno menghalalkan hal yang halal, halal dalam pikirnya.

Marni telah dilamar oleh juragan dengan brewok tak terawat. Katanya, brewok itu adalah jimat yang membuatnya orang kaya di desa. Tak ada yang boleh menyentuh brewok itu, termasuk pemiliknya. Terkecuali memegangnya dengan tangan yang telah dilumuri air sisa memandikan mayat. Marno tahu, ketika seorang gadis telah dilamar, lelaki lain tak bisa melamarnya juga sebelum ada kejelasan pada lamaran yang pertama. Marno adalah pemuda kampung yang taat agama, meski terkadang taat meminum pigur juga. Marno kalah cepat dalam arena lamaran, apalah daya, juragan Teguh punya segalanya dan Marno hanya punya cinta

Terkadang, setelah menghadap Sang Tuhan, Marno berfikir Marni adalah jodohnya. Dan menurutnya juragan brewok itu tak pantas dengan Marni, karna yang pntas dimatanya hanyalah dirinya sendiri. Marno berdoa agar mereka berpisah, doanya perlahan diijabah Tuhan. Beberapa hari terakhir Marni dan Marno sedang dekat, karena urusan duniawi yang tak seberapa. Urusan jual hasil panen sebelum masanya, itu hal biasa, meski agama tak membolehkan. Kehangatan yang Marno rasakan membuatnya yakin untuk bertindak lebih dari ini, tak lagi diam melihat mereka berdua, tak lagi mengintip mereka bergoyang di kebun bambu. Marno ingin Marni, ingin menjadi miliknya walau ia sadar, Marni milik Tuhannya.

Malam hari sembari menyerupt kopi dan bedua dengan bulan diantara ribuan bintang, Marno merencanakan niat baiknya. Ia ingin melenyapkan Juragan bewok itu dari dunia, itu adalah hal baik baginya. Sedang, perihal Marni, ia memutuskan untuk memeletnya, tapi bukan dengan pelet ikan yang kau gunakan saat memancing nila di empang.

Keesokan harinya, Marno berpakaian rapi, ia tak ke ladang atau bahkan ke koperasi untuk meminjam uang. Ia ke gunung, sebuah gunung tak kembar di kota tetangga dengan tujuan bertemu orang pintar. Di tempat yang remang, percis seperti tempat si bewok dan Marni bercumbu, Marno menyambangi rumah ki Gledek, nama bekennya. Dukun dengan segudang cengkeh di belakang rumahnya. Marno masih menikamti halaman depan rumah ki Gledek itu, di atas pintu ada kepala babi dan cicak. Marno heran, kenapa tidak cicak dan buaya saja, itu lebih seru menurutnya.

Setelah melewati pintu bewarna merah itu, Marno langsung ke ruang praktek sang dukun, yang terkadang katanya ia juga beradaptasi menjadi dukun bayi, maklum, di daerah itu akses kesehatan tak ada, dan mungkin jika ada, tak akan ada. Tanpa menyatakan permintaannya, sang dukun langsung memberi sesajen bagi kelangsungan niat baik Marno, sang dukun telah mengetahui segalanya. Marno pulang dengan membawa air bening yang telah dibacakan mantra ala kadarnya, kata sang dukun, air itu diminumkan ke Marni, kelak ia akan membangun cinta kepada Marno.

Setibanya di gerbang desa, Beruntunglah Marno bertemu dengan Marni yang baru saja pulang dari kota. Tanpa menyiakan waktu yang terkadang meremehkannya, Marno mendekat. “kamu dari kota ya” Tanya Marno ke gadis pujaannya, “udah tau nanya” jawab ketus sang pujaan hati. Mendengar hal tersebut, emosi Marno tesulut, ia langsung membekap Marni dan membawanya ke semak-semak. Ia lucuti semua yang ada tapi tak menyentuhnya, lalu ia siramkan air sesaji itu kesekujur tubuh Marni. Tak lama kemudian tubuh Marni berubah menjadi seekor lintah yang meronta. Tak lama ia berhenti  bergerak dan  mati mengenaskan. Marno sedih, akan kelakuannya. Ia dirasuki setan, kata hatinya. Itu bukan ulahnya, itu ulah setan.

Marno langsung lari ke rumah si bewok, ia memberitahu bahwa tunangannya sudah mati. Bewok menjerit, meronta. Tak lama bewoknya rontok satu persatu, membuatnya berubah menjadi lelaki tua yang renta. Dan lagi, ia rasa ada yang menguasai dirinya, Marno langsung mengambil arit yang tergantung di belakang pintu dan membunuh si tua renta. Ia pikir, si Bewok dan Marni telah bersekongkol melukai hatinya. Dimutilasinya si tua renta dan ditinggal tanpa kata perpisahan.

Di dalam hatinya, Marno merasa kepuasan tiada tara, tak lama, ia pejamkan mata dan menghirup oksigen dalam-dalam menikmati kemenangan. Namun sungguh terkagetnya ia ketika membuka mata, ternyata ia telah menjadi pocong yang sedang dicambuk oleh malaikat penjaga kubur.

Malam pukul 7



Malam itu sabtu pukul 7. Bumi dilanda tangis ringan dari langit yang tiba-tiba bergejolak menjadi hujan lebat. Hujan lebat itu berasal dari sumpah serapah seorang pilot yang sedang menerbangkan pesawat sarat penumpang untuk berlibur diakhir pekan. Ada penumpang kaya, miskin, pura-pura kaya, ingin miskin dan ingin bercanda juga ada, semuanya lengkap sembari menampilkan wajah tegang kepasrahan nyawa yang sedang digantungkan.

Sumpah itu tak sama dengan sumpah palapa yang menggoyahkan jawa, melainkan sumpah nestapa. “ujan kek gini ni yang diharapakan pengemis dan fakir cinta, hahahha” ucapan yang tak dicerna yang kemudian disampaikan kepada co-pilot disampingnya. “kamu bisa saja, mungkin ini doa dari pujangga yang terhimpit diantara hubungan orang yang dicinta” jawab co-pilot yang sama saja menjatuhkan petaka, kemudian mereka tertawa dan menangis.

Kuduga, ucapan itu adalah pengalihan isu beredarnya video mesum yang pilot perankan bersama pramugari. Itu hal biasa katanya. Dugaanku diperkuat re-tweet dari teman yang menyebarluaskannya begitu cepat dan bebas. Tapi ku pikir, ia bukan ariel, ia hanya pilot biasa yang suka wanita, meski ariel juga. Atau pabila bukan pengalihan isu, itu adalah ungkapan kekecewaan terhadap hubungan yang sedang ia rasakan. Mungkin tak bahagia, dipermainkan, hanya status, bisa saja.

Canda dan air mata jadi satu di kabin itu. Pilot tak mampu mendaratkan pesawat ke hati yang tepat. Mereka memutar arah, menjauh dari bandara agar bisa kembali diwaktu yang tepat, sayang waktu itu tak kunjung datang. Semua penumpang panik, terkecuali Marno, petani dari tanah antah berantah yang selalu tersenuym akibat bibir atas dan bawah tak dapat berpagut. Meski begitu, Marno adalah jawara bercumbu akibat bibir yang maju. Itu adalah ganjaran bagi siapa saja yang menyusu pada ibu hingga usia 17, padahal itu jatah sang ayah.

Kondisi kacau balau, rancu, tak ada kepastian. Komunikasi radio pesawat ke bandara tak ada tanggapan, bak hubungan yang tersindikasi zona pertemanan, padahal mereka dekat. Disaat pilot berupaya sekuat tenaga sisa adegan semalam, tiba-tiba sayap pesawat bagian kanan disenggol halilintar, semua hancur seketika mambuyarkan sumpah menghina para pencari cinta. 

Semua mati, tak berdaya. Ini sebenarnya sama dengan apa yang dirasa pencari cinta. Mereka sedang mencari, kau hina. Mereka diam, kau bully. Mereka mati, kelak kau yang dikubur!

Selasa, 17 Desember 2013

Lempitan Uang Seribu

Biarlah cahaya menyeruak di sesak dadamu
agar bias gundah malam kita berlima
karena kamu, dia dan semua sama
sama-sama egois dalam gengsi rasa
bak mobil balap dan mobil pick up
begitu kencang dikejar rindunya
ia bukanlah kamu yang mampu tegar
dalam hancurnya hubungan itu
hingga, mereka menepi dalam tengadah hampa
hei, itu kau, bukan aku
kata dia dari lempitan uang seribu

Rabu, 11 Desember 2013

Cahaya Pagi

sesak aku menyeruak
dalam ego yang berontak
sedari tadi hilang kontak
simpanlah itu dalam kotak

kecil seusia 
inginnya merangkai kata 
mana komunikasi antara kita
yang kau dan aku timba ilmunya

sekarang selasa malam
terasa begitu kelam
entah aku yang tenggelam
atau kau yang tersudut dalam kelam

berdebar isi hati
kabarlah yang dinanti
ini rasa atau emosi
hingga bersinar cahaya pagi

Selasa, 10 Desember 2013

KELUARGA TERAKHIR

KELUARGA TERAKHIR

Namaku Dinda Saputri, anak pertama dari dua bersaudara yang tinggal bersama ayah dan bunda dalam keluarga kecil bahagia. Setiap pagi, bunda selalu membangunkanku untuk solat subuh nerjamaah di rumah, sedangkan Raka, adikku, dibangunkan oleh ayah. Setelah solat, terkadang aku dan Raka bertengkar layaknya anak kecil yang berebut untuk mandi terlebih dahulu pabila aku ada jadwal kuliah pagi. Aku mahasiswi jurusan desain grafis karena  cita-citaku menjadi seorang desainer.

Raka Saputra, adik cowokku yang masih duduk di kelas 1 SMA, dia selalu bilang kalo dia itu ganteng, dan fisikli, emang dia ganteng. Dia jadi anak kesayangan ayah, yang kini bekerja di Kantor Pemda tempat kami tinggal, apapun yang ia inginkan pasti terkabul. Sedangkan aku lebih dekat dengan bunda, seorang guru kimia di madrasah aliyah temapatku sekolah dulu.

Setiap hari selalu berjalan lancar, sampai suatu ketika, aku hendak pergi ke kampus dengan suasana hujan yang agak deras, aku terpeleset saat berlari menuju ruang kuliah. Sejak saat itu, aku menderita gagar otak, yang membuatku merasa sakit ketika mengingat sesuatu dan bertambah parah karena penglihatanku juga mulai melemah.

Sejak itu, ayah dan bunda memberikan perhatian lebih terhadapku. Sedangkan Raka, merasa sendiri akibat situasi ini, ditambah baru saja ia diselingkuhi pacarnya. Aku merasa tak tega, namun tak sanggup berbuat apa-apa.  Sebulan berjalan, kondisiku tak berubah, dan suasana rumah yang tak seperti dulu, membuat Raka pergi dari rumah.

Aku rasa, dia hanya ingin mencari ketengangan sejenak. Namun, setelah beberapa hari tak ada kabar darinya, kami memutuskan untuk  mencarinya. Diperjalan mencari Raka, mobil yang kami kendarai mengalami kecelakaan yang membuat ayah dan bunda meninggal, sedangkan, aku terluka parah dibagian wajah serta mataku akibat serpihan kaca.

Setelah kejadian itu, Raka kembali ke rumah dengan keadaan yang hampir tak ku kenali.  Dipelipis matanya terdapat bekas jahitan. Entah apa penyebabnya, aku tak tahu pasti, yang jelas ia telah kembali bersamaku.

Lambat laun kondisiku membaik, daya ingat dan penglihatanku kembali seperti semula dan untuk memenuhi kebutuhan hidup, aku bekerja sebagai seorang web desain yang memudahkanku bekerja di rumah karena kondisi Raka yang sangat lemah. Ia tak lagi dapat melihat dengan dengan jelas, sepertinya ia mengalami kebutaan. Sejak saat itu ia tak lagi bersekolah dan hanya membantuku di rumah.

Suatu hari aku mengalami tekanan yang sangat menyiksa, keluhan dari komsumen, perlakuan orang-orang terhadap keluargaku serta kondisi Raka yang semakin parah. Aku terbawa emosi, sehingga membuat Raka pergi dari rumah. Awalnya aku tak merasa bersalah, namum aku merasa kehilangan sosok yang membuatku aman.

Akhirnya aku mencari Raka, rumah temannya, rumah sakit, bahkan kantor polisi telah kudatangi, namun hasilnya nihil. Suatu pagi aku hendak berziarah ke makam kedua orang tuaku, sungguh terkagetnya saat aku melihat makam dengan nisan yang tertulis Raka Saputra berada di sebelah makam ayah.

Tumpahan air mata ini tak dapat ku bending lagi. Tak lama, ada seorang kakek menghamipi. Kakek itu adalah penjaga makam. Kakek menceritakan segalanya, sekitar seminggu yang lalu, Raka mengunjungi makam orang tua kami sambil menangis, dan tertidur di atas makam ayah, sehingga sang kakek mengajaknya tinggal di rumahnya. 

Di rumah kakek, Raka menceritakan semua. Semuanya Raka ceritakan tanpa ada yang terlewat. Dari cerita kakek, aku mengetahui mata yang aku gunakan adalah hasil donor dari raka yang membuatnya buta dan lemah. Aku semakin merasa bersalah yang membuatku tak kuasa lagi dengan kenyataan ini.

Setelah kakek menenangkannku, aku pun pulang. Setibanya di rumah, peurtku berteriak, minta jatah. Aku ke dapur, memasak mie instan berkuah. Aku masih sedih, sangat sedih. Ketika aku lihat foto keluarga di dinding bercat biru. Air mataku tertumpah, bercampur darah dari lengan yang sengaja ku sayat untuk berjumpa dengan mereka. 

KEPERGOK GITUAN

KEPERGOK GITUAN

Oke kenalin nama gue lidah buaya, mahasiswa semester 5 Fakultas  Hukum di sebuah PTN ternama di Provinsi tempat gue tinggal, Lampung. Yap, Lampung adalah provinsi paling selatan di Sumatera dengan beragam keindahannya mulai dari tempat wisata, budayanya, sejarahnya dan tolong jangan lupakan  kulinernya juga.

Gue tinggal di pusat kota Bandar Lampung (Kota tapis berseri) dan gue rada heran kenapa orang-orang di sini jarang banget komunikasi pake bahasa daerah Lampung. Di Palembang semua orang ngomong pake bahasa palembang, mau suku lo jawa, keturunan Cina, berdarah Arab kek, lo harus ngomong pake bahasa palembang untuk kegiatan sehari-hari, dan hal ini hampir berlaku di beberapa daerah lainnya yang pernah gue kunjungi,

Intinya bahasa itu penting banget buat komunikasi, apapun tujuan lo komunikasi itu harus dengan cara yang tepat dan juga dapat dimengerti lawan komunikasi lo.

Oke, balik lagi kekehidupan gue sebagai mahasiswa dijurusan hukum perdata.  Hari ini gue uas dengan mata kuliah tergalau buat gue, ya sebut saja Hukum Acara Perdata (HAP). Sebuah matakuliah yang jarang dicintai mahasiswa hukum pada umumnya termasuk gue. Bangun pagi, solat subuh, zikir, doa, sarapan dan tentunya mandi sambil sampoan pake shower ala iklan-iklan di tipi itu menjadi senjata tambahan gue buat ngadepin si HAP.

Lo semua pasti tau setiap ujian semua pelajar mendadak rajin dateng pagi demi mendapatkan posisi terbaik karena “posisi menentukan prestasi”. Kata-kata itu gue adopsi dari filosofi teman seperjuangan di medan perang zaman megalitikum, tapi, menurut gue, itu bisa jadi hal terkonyol kalo lo gak bisa komunikasi dengan pejuang-pejuang laennya untuk mendapatkan kemenangan sejati, ya sebut aja kemenangan itu contekan.

Contoh deh, lo dapet tempat duduk dibagian belakang, mojok pula, tapi temen-temen di sekitar lo itu bernama si pelit, si bahil, si merkidil, yang juga bersekongkol dengan kutu buku yana pendiem karna kutuan.

Langsung aja kita ke tkp, hari ini gue ujiannya di lokal 14, angka favorit gue tuh. Gue duduk dengan posisi yang lumayan gak bagus buat ujian, yap paling depan mamem, menghadap dua wajah pengawas yang pastinya dia juga bosen meski nantinya pulang bawa honor ngawas yang sedikit bisa buat mereka tersenyum karena bisa beliin anaknya gula kapas.

Aku galau, aku gak punya pulsa, eeh bukan maksudnya kepean. Lo pada pasti tau kan, itu tuh, kertas ajaib yang berisi tulisan penting bagaikan es buah di padang pasir trus lo disuapin sama bidadari khas india yang pake baju gak pernah nutup udel bodongnya itu.

Pengawas yang satu sebut aja Mawar dia lagi keluar gak tau kemana, mungkin mau nemuin si marwan dan yang lainnya sebut saja kaktus, pohon yang punya bunga indah, yang biasa tumbuh di daerah panas yang haus akan belaian, eh bukan belaian tapi aer.

Kaktus mulai berdiri dari singgasananya dan gue juga gak mau kalah. Dengan  mulai ancang-ancang untuk komunikasi empat mata dengan melati, ratu kecantikan segajat jalan raya. Dia terkenal suka banget ama ni pelajaran dan gue harus dapet ilmu darinya.

Setelah lirik-lirik, gue suit-suitin, “elat-elat” panggil gue dengan nada bisik-bisik supaya dia nengok dan ternyata dia denger panggilan jiwa gue men, dada gue dag, dig, dug coy. Gimana enggak, lo bayangin aja waktu dia nengok, geraian rambutnya man indah banget, gue tatap matanya dia manis banget kalo lagi merem gini, apalagi bibirnya itu loh, wow sekseh.

Tanpa pandang bulu (bulu idung tau) gue langsung bersabda nomor 4 dong, dia melirik lembar jawabannya dengan sedikit membacanya dalam hati. Gue senyum kegirangan dalam hati sambil nyengir nongolin ni gigi yang disikat pake odol merek dodol, setelah beberapa detik gue bertingkah kayak sahabat dahsyat yang dahsyat banget.

gue beranikan diri untuk kembali menatap ke arahnya untuk mendapatkan apa yang gue inginkan, dan ternyata saat gue noleh jantung gue berhenti mompa darah dan beralaih mompa minyak di muka gue yang terkejut karena Kaktus uda senyum nyengir gitu di depan gue. SELESAI      

Angel Story

Angel Story

Namaku bayu, mahasiswa semester akhir yang sedang sibuk dan mumet menyusun skripsi. Ya, skripsi. Hal  yang membutuhkan perhatian ekstra untuk mengerjakannya. Ia begitu menuntut perhatian, perhatian yang lebih. Lebih dari  seorang pacar, mantan, gebetan atau bahkan php-an.

Di sela senggang, Bayu selalu menyempatkan waktu untuk mengerjakan skripsi dengan berjudul “Pengaruh Film Terhadap Keharmonisan Rumah Tangga dan Pencegahan Perceraian”. Di kampus, di cafe dan tempat lainnya, Bayu selalu mencari spot wifi untuk menambah materi tentang film dan hal-hal yang berkaitan dengan keluarga. Maklum lah, pemanfaatan teknologi secara sempurna dan tak keluar biaya, kesukaan para mahasiswa.

Seperti saat ini, Bayu menikmati wifi di perpus kampus. Suasana tenang dan nyaman, mungkin bisa mendongkrak semangatnya mengerjakan skripsi. Apalagi, ada gadis cantik di hadapnya. Rambut gadis itu berponi dan diikat, membuatnya terpikat pada pandangan pertama dalam hubungan tak terikat.

Sesekali mencuri pandang, terkadang melempar senyuman bahkan beradu tatapan. Sungguh takkan Bayu siakan. Namun, gadis itu tak lama di hadapnya. Ia berlalu bagai waktu. Dibuatnya Bayu hilang semangat, hilang rasa, seperti inikah cinta?

Sejak dua bulan lalu, Bayu menyandang predikat jomblo. Hasil hilangnya pacar yang ditikung teman. Bayu ditusuk dari belakang. Tapi percayalah, yang ditusuk itu hanyalah sate, bukan teman atau sahabat yang sedang pedekate.

Setelah mencoba move-on dengan yang lain, Bayu kembali mendapat gelar php. Penerima Harapan Palsu, entah apa itu istilahnya. Bayu tak mau menyalahkan, hanya saja sulit untuk diterima ketika kepercayaan telah diabaikan dan menikmati kesendirian yang tak diharapkan.

Hati dan rasanya kering bagai padang pasir. Dan, gadis itu bagaikan malaikat cantik yang membawakannya minuman menyegarkan, dan hilanglah dahaga Bayu akan perhatian dan penantian.

Diperjalanan menuju rumah, Bayu bagai butiran debu yang tak tau arah pulang. Arah tanpa cahaya mengerjar cita dan cinta di dunia fana ini. Jantungnya berhenti mendadak, ketika Bayu melihat gadis pujaannya itu hendak tertabrak saat menyebrang jalan. Bayu panik.! Bayu hampiri sebrang jalan, namun tak ditemui sosok yang ia cari selama ini.

Bayu pasrah dalam tengadah menghamba. Senja hari itu mengawalnya pulang, menemaninya dalam lelah serta mimpi dimalam hari.

Hari berikutnya, sepulang bimbingan skripsi. Bayu mampir ke cafe favorit tempatnya menyendiri ditengah keramaian jiwa tanpa arti. Secangkir capucino sore menemaninya menyeruput keindahan awan yang dilukis Tuhan. Dan lagi, dari kejauhan ia melihat gadis yang selalu ia damba berjalan dihadapnya.

Bayu penasaran, jangtungnya kembali berpacu dalam melodi merangkai diksi. Bayu keluar untuk mengejar. Bayu telusuri jalan sekitar, namun tak ia jumpai gadis itu. Bayu rasa, gadis itu sedang mencarinya juga. Ya, rasa Bayu akan menemuinya.
Di jalan pulang, Bayu dihadang beberapa pemuda yang menyeramkan. Bertato, mulut berasap, dan tangan mengepal kaleng lem merek terkenal. Ia rasa, mereka adalah seniman bagi dirinya sendiri. Mereka tak memperbolehkan Bayu lewat, sebelum memberinya “jatah”.

Bayu serahkan semua yang ia punya, kecuali nyawa dan keperjakaan. Tapi apalah daya, ia hanya pemuda yang sedang hilang arah tanpa cahaya. Mereka tetap mencoba merebutnya, merebut Bayu dari Tuhannya. Perut Bayu ditusuk dengan pisau berkarat dan tinggal pergi di lorong gang yang sepi.


Pikirnya akan mati. Namun gadis pujaan itu datang menghampiri. Pertolongan pertama perempuan pun datang. Ia merangkul Bayu, menggenggam erat tangannya serta melempar senyuman sembari mencabut nyawa Bayu pergi dari raga yang tak begitu suci. 

Waktu

Waktu

Tik, tik, tik, tik, tik, tik detik jarum jam berputar. Putaran yang selalu menjadi perhatian bagi Bagus. Seorang anak lelaki yang menjadi pahlawan bagi keluarganya. Sehari-hari sepulang sekolah ia selalu menemani sang ayah menjaga toko jam yang menjadi satu-satunya ladang penghasilan.

Sabtu itu, menjadi hari yang sangat dinantinya untuk menjaga toko sembari berkelana ke dunia fantasi. Hari ini, ia mengenakan kemeja putih. Ia  tampak tampan, ditambah  jam digital hitam yang mengikat di tangan kiri membuatnya lebih percaya diri di depan wanita  yang ia pilih. Mutiara, ya Mutiara bocah pujaan hatiya.

Mutiara adalah teman sekelas yang yang ia suka. Rambutnya berponi,  dibagian belakang terikat cepol. Membuat Bagus melayang dalam impian ketika memandangnya. Hanya memandangnya saja ia dapat melayang, tak lagi perlu menghisap kaleng lem dan menutupinya dengan baju.

Mutiara bak pencerah hari sunyi Bagus dari kegelapan waktu. Seringkali Bagus menghayalkan senyum Tiara, singkat namanya. Senyum khas yang terangkai rapi dengan gingsul di bagian kiri. Hal itu memberi ketenangan bagi Bagus yang ia nanti.

Waktu pukul 14.14 WIB, setelah makan siang dengan menu yang tak ala kadarnya, menu itu adalah menu favoritnya, gulai tempe. Bagus membiarkan diri terpojok di sudut toko yang tak begitu tua meski banyak di sela-sela terdapat cat yang mengelupas dan meronta.

Bagus beralih ke dunia baru, dunia yang mampu memberikan apa yang ia mau. Dunia dengan cahya. Bagus memutar waktu sesuka hati. Dalam hati yang tak begitu suci. Ia putar waktu. Ia putar lagi waktu, ia putar kembali semua yang telah terjadi. Tak lama dari itu, senyum menghampiri wajahnya, ia kembali. Kembali merasa sunyi di dunia yang memberinya kebosanan tanpa henti.

Perlahan, Bagus keluar dari kelamnya hidup di sudut toko waktu. Menghirup dalam-dalam oksigen yang digratiskan Tuhan. Memandang jalan, menatap tingkah semua yang ada di hadapan. Dan kini, seorang mahasiswi yang memiliki ciri  seperti Mutiara berdiri tepat di hadapnya.

“Bisa genti batu jam kan dek” ujar mahasiswi.
Dengan awal senyuman, Bagus menjawab. “wah di sini jual baterai jam mba, bukan batu jam, jadi gak bias mba, hehe”. Gadis itu tersenyum dan perlahan melepas jam kulit miliknya.
Bagus gembira, namun kegembiraan itu tak akan ia bagi untuk siapapun. Menurutnya, menyenangkan orang lain adalah perihal mudah. Namum, membahagiakan diri senidiri adalah sebuah upaya.
Bagus langsung masuk ke dalam dan mempersiapkan alat tempurnya. Sang ayah tetap duduk di kusri depan meja kayu pemberian kakek sembari menghitung kertas yang bertuliskan angka. Angka yang pasti membuatnya galau dan risau. Ya, itulah ayah terhebat baginya. Perlahan dengan hati-hati, Bagus melepas penutup baterai jam kulit berwarna coklat. Bagi anak seusianya, ia adalah penyedia jasa waktu yang tiada duanya, tiada tandingan.
Tugasnya ia laksanakan sembari perlahan mencuri pandang dan berharap mendapat senyuman dari gadis yang ia pikir sebagai Tiara di usia dewasa. Mahasiswi itu melihat-lihat koleksi jam yang tertata rapi di etalase. Setelah selesai, Bagus memanggilnya dengan senyum manja “mba, selesai”. Gaya manja seperti balita yang ingin disuapi ibunya.
Waktu yang ia benci pun datang. Waktu berpisah dengan gadis berkemeja merah dan levis hitam. Raut wajah sayu menghinggap, mengawali tarikan nafas dalam-dalam, tanda ketidak nyamanan.  Raut sayu Bagus menjadi alasan sang ayah menutup pintu rezekinya lebih cepat dan membiarkan waktu dalam kegelapan.

Bagus mendapat pencerahan dari cahaya yang ia ikuti. Ia kembali ke sudut toko. Kembali memutar waktu untuk bersama mahasiswi itu. Di dunia barunya, Bagus kembali melihat Tiara dewasa melempar senyum ke arahnya. Sadarilah, melempar senyuman itu tidak sopan. Kau melempar, bukan memberi!. Perlahan Bagus tatap dalal-dalam, seolah waktu itu tak ingin terlewatkan dan berupaya menghentikan.

Tik, tik, tik, tik, tik, tik, detik jarum jam berputar. Terus berputar bak roda kehidupan. Ia tak mampu menghentikan waktu untuk kembali ke dunia asalnya. Bagus panik. Keringat mengalir deras di belakang telinga, tanda kepasrahan.


Tik, tik, tik, detik jarum jam berputar. Bagus melirik ke arah jam tua dan perlahan tatapannya turun melihat sang ayah dan bunda merapati wajah sayunya yang telah kaku membisu diselimuti kain putih tanpa noda. 

Octopus, Reanopus dan Pulau Rindu

Octopus, Reanopus dan Pulau Rindu

Sore itu telihat seperti sore pada umumnya. Senja ditunggu banyak orang untuk mendapatkan ketenangan. Sebuah pulau tanpa padang pasir, layaknya pantai yang kau kunjungi saat menghabiskan akhir pekan bersama sanak family. Pulau itu tak jauh dari peradaban tersembunyi. Sebuah pulau yang dipageri semak alang setinggi bayi berusia 4,5 tahun dan dijaga ular korba yang tak menari.

Octopus dan Reanopus tiba di sana untuk pertama kali secara bersama. Dan yakinlah, itu akan menjadi agenda seterusnya. Setibanya mereka di sana, mereka disambut oleh pohon tak bersalah yang ditebang dan mungkin hendak dijadikan arang. Ya, hingga arang menjadi abu tentunya.

"Abu" milik Octopus yang dikomandani oleh Reanopus singgah di salah satu sudut bawah pohon, menyendiri dari teman lain yang ada di sana. Octopus dan Reanopus mengembara, membangkitkan cinta. Berayun, berseluncur dan terdiam menyaksikan kebodohan kepiting yang tertipu perangkap besi.

Cinta pada mereka tampak begitu jelas, dan pasti membuatmu iri. Mereka adalah dua alien aneh yang tersasar mencari cahaya untuk diikuti. Octopus ingat betul, dan mungkin kau juga akan yakin bahwa begitu besar rasa cintanya, rasa cinta kepada Reanopus.

Reanopus berbahagia, tertawa, memetik dan mencium bunga. Itu lah Reanopus, gadis kecil milik Octopus yang dipilihkan Tuhan untuknya. "Sugoi". Kata yang selalu terucap ketika Reana, singkat namanya pabila menikmati hal yang ia cintai, termasuk menikmati perannya mencintai Octopus.

Di pulau itu, mereka menjadi alien indipenden. Tak sama dengan alien lainnya, yang hanya mengunci diri bersama entah siapa dalam mobil dengan minimal gelap kaca 60%. Mesinnya dibiarkan hidup, mengebulkan dugaan pikiran mereka sedang menikmati goyangan di dalam tanpa pergerakan. Bayangkanlah, kawan. Bayangkan saja, tapi jangan kau lakukan.

"Jangan mendekat ke mobil itu, nanti mereka terganggu !" Ucap Octopus kepada kekasihnya yang tak sabar mendekat ke sebuah mobil tanpa hantu.

Reanopus tak menggubris ucapan kekasihnya itu, ia hanya menoleh ke arah Octopus dan menyengirkan gigi yang dibungkus senyuman. Dia cantik sekali, dia Reanopus milik Octopus. Reana melangkah, berlali kecil dan terus melangkah meninggalkan Octopus yang tetap mengejarnya. Ya, tetap mengejar dan menjaga cintanya.

Dua alien independen itu menuju ke sebuah kapal karam yang mungkin sengaja dipertontonkan. Ya, kapal itu karam. Di dalamnya ada cangkang tiram. Dan lagi, Reanopus berujar "sugoi" dan Octopus sebagai kekasih yang baik, tak akan membiarkannya begitu saja. Ia mengambil kamera dan mulai mengabadikannya, mengabadikan cinta mereka.


Octopus dan Reanopus adalah pasangan alien yang aneh. Mereka serasi dalam pelukan Ilahi. Itulah sebait doa yang dipanjatkan semesta untuk mereka ketika berlomba dengan senja mewujudkan cita dan cinta. Dan yakinlah kawan, pulau itu menjadi pulau rindu Octopus dan Reanopus sepanjang masa, sebelum masa benar-benar tiada.