Ini adalah sekelumit kisah Marno
yang mencintai Marni, gadis desa sebelah yang selalu ia jumpa di ladang yang
seberapa. Awal mereka jumpa terjadi ketika kandungan ibu Marno berusia 39 hari,
23 jam, 35 detik. Saat itu Marno hendak dititipkan oleh Tuhannya ke kandungan
sang ibu. Ketika Marno ditanya oleh Tuhan mengenai Ke-Esaan Tuhannya, disitulah
Marno melirik Marni tanpa busana untuk pertama kali dan langsung merasakan getaran
cinta dan dibawah perutnya. Marno dilahirkan ke dunia lebih cepat 24 menit 14
detik dibanding Marni. Meski nama mereka seperti bayi kembar, mereka bukanlah
sodara seayah, sekandung atau sepersusuan. Mereka adalah pasangan yang
diharapkan Marno.
Marni adalah bunga desa, tapi tak
perawan lagi. Ia kehilangan mahkota yang dicuri setan tepat 40 hari setelah ia
mendengar kabar ada pesawat yang hilang di lautan. Namun, apapun itu, Marno
tetap menanti Marni, mencintai dan hanya bisa memandangnya dari gubuk reot
tempat menyembunyikan ari dari sengat matahari. Di hari ke 40 itu, Marni merasa
sakit di perutnya. Merasa ada makhluk tak halus yang menggerayangi tubuhnya.
Itu hanya ia ceritakan pada ibu kandungnya, meski ia punya ibu tiri juga. Tak
ada yang tau mengenai hal itu, kecuali mereka yang tau dan Tuhannya.
Sabtu pagi, sebagaimana biasa
bukan hari libur bagi petani, Marno menuju ladang dengan bibir yang tak dapat
tertutup rapat, memang begitu sejak lahir. Kata ibunya, itu akibat ia selalu
menyusu hingga usia 17, entah itu alasan yang mengada atau menang ada. Marno
menggantungkan cangkul di pundak kanan dan sebotol air bening lengkap dengan
pigur sachet di tangan kiri, itu membuatnya merasa gagah di tanah yang
ia jajah.
Seperti biasa, ia membersihkan
rumput yang menyeruak dinatara padi harapan bangsa. Rumput yang sebenarnya
memberikan kita oksigen yang digratiskan Tuhan. Meski terkadang Marno ragu,
karna ia merasa bagai rumput itu dalam hubungan yang terjalanin antara Marni
dan mandor Teguh. Hubungan mereka terjadi karena cinta lokasi, tapi ku pikir
mereka bercinta di lokasi, layaknya suami-isteri.
Dicangkulnya rumput itu dengan
emosi, meluapkan ketidaknyamanan mata melihat orang dicinta bersama yang lain.
Marno berteriak, bak orang yang menderita kesedihan tiada tara. Keringat anyep
dan asin dari dahinya bercampur air mata mambanjiri sawah. Marno tak dapat
mengelak, Marni adalah cinta sejatinya. Kecemburuan itu membuat Marno
menghalalkan hal yang halal, halal dalam pikirnya.
Marni telah dilamar oleh juragan
dengan brewok tak terawat. Katanya, brewok itu adalah jimat yang membuatnya orang
kaya di desa. Tak ada yang boleh menyentuh brewok itu, termasuk pemiliknya. Terkecuali
memegangnya dengan tangan yang telah dilumuri air sisa memandikan mayat. Marno
tahu, ketika seorang gadis telah dilamar, lelaki lain tak bisa melamarnya juga
sebelum ada kejelasan pada lamaran yang pertama. Marno adalah pemuda kampung yang
taat agama, meski terkadang taat meminum pigur juga. Marno kalah cepat dalam
arena lamaran, apalah daya, juragan Teguh punya segalanya dan Marno hanya punya cinta
Terkadang, setelah menghadap Sang
Tuhan, Marno berfikir Marni adalah jodohnya. Dan menurutnya juragan brewok itu
tak pantas dengan Marni, karna yang pntas dimatanya hanyalah dirinya sendiri.
Marno berdoa agar mereka berpisah, doanya perlahan diijabah Tuhan. Beberapa hari
terakhir Marni dan Marno sedang dekat, karena urusan duniawi yang tak seberapa.
Urusan jual hasil panen sebelum masanya, itu hal biasa, meski agama tak membolehkan.
Kehangatan yang Marno rasakan membuatnya yakin untuk bertindak lebih dari ini,
tak lagi diam melihat mereka berdua, tak lagi mengintip mereka bergoyang di
kebun bambu. Marno ingin Marni, ingin menjadi miliknya walau ia sadar, Marni
milik Tuhannya.
Malam hari sembari menyerupt kopi
dan bedua dengan bulan diantara ribuan bintang, Marno merencanakan niat
baiknya. Ia ingin melenyapkan Juragan bewok itu dari dunia, itu adalah hal baik
baginya. Sedang, perihal Marni, ia memutuskan untuk memeletnya, tapi bukan
dengan pelet ikan yang kau gunakan saat memancing nila di empang.
Keesokan harinya, Marno
berpakaian rapi, ia tak ke ladang atau bahkan ke koperasi untuk meminjam uang.
Ia ke gunung, sebuah gunung tak kembar di kota tetangga dengan tujuan bertemu
orang pintar. Di tempat yang remang, percis seperti tempat si bewok dan Marni
bercumbu, Marno menyambangi rumah ki Gledek, nama bekennya. Dukun dengan
segudang cengkeh di belakang rumahnya. Marno masih menikamti halaman depan
rumah ki Gledek itu, di atas pintu ada kepala babi dan cicak. Marno heran,
kenapa tidak cicak dan buaya saja, itu lebih seru menurutnya.
Setelah melewati pintu bewarna
merah itu, Marno langsung ke ruang praktek sang dukun, yang terkadang katanya ia
juga beradaptasi menjadi dukun bayi, maklum, di daerah itu akses kesehatan tak
ada, dan mungkin jika ada, tak akan ada. Tanpa menyatakan permintaannya, sang
dukun langsung memberi sesajen bagi kelangsungan niat baik Marno, sang dukun
telah mengetahui segalanya. Marno pulang dengan membawa air bening yang telah
dibacakan mantra ala kadarnya, kata sang dukun, air itu diminumkan ke Marni,
kelak ia akan membangun cinta kepada Marno.
Setibanya di gerbang desa,
Beruntunglah Marno bertemu dengan Marni yang baru saja pulang dari kota. Tanpa menyiakan
waktu yang terkadang meremehkannya, Marno mendekat. “kamu dari kota ya” Tanya Marno
ke gadis pujaannya, “udah tau nanya” jawab ketus sang pujaan hati. Mendengar hal
tersebut, emosi Marno tesulut, ia langsung membekap Marni dan membawanya ke
semak-semak. Ia lucuti semua yang ada tapi tak menyentuhnya, lalu ia siramkan
air sesaji itu kesekujur tubuh Marni. Tak lama kemudian tubuh Marni berubah
menjadi seekor lintah yang meronta. Tak lama ia berhenti bergerak dan mati mengenaskan. Marno sedih, akan
kelakuannya. Ia dirasuki setan, kata hatinya. Itu bukan ulahnya, itu ulah
setan.
Marno langsung lari ke rumah si
bewok, ia memberitahu bahwa tunangannya sudah mati. Bewok menjerit, meronta. Tak
lama bewoknya rontok satu persatu, membuatnya berubah menjadi lelaki tua yang
renta. Dan lagi, ia rasa ada yang menguasai dirinya, Marno langsung mengambil
arit yang tergantung di belakang pintu dan membunuh si tua renta. Ia pikir, si
Bewok dan Marni telah bersekongkol melukai hatinya. Dimutilasinya si tua renta
dan ditinggal tanpa kata perpisahan.
Di dalam hatinya, Marno merasa
kepuasan tiada tara, tak lama, ia pejamkan mata dan menghirup oksigen
dalam-dalam menikmati kemenangan. Namun sungguh terkagetnya ia ketika membuka mata,
ternyata ia telah menjadi pocong yang sedang dicambuk oleh malaikat penjaga
kubur.