1.
Pra Produksi
Pra Produksi adalah tahapan awal dalam pembuatan film. Menentukan
cerita, crew, pemain, lokasi, alat dan semuanya. Tahap ini menjadi tahap yang
sangat penting, bila diistilahkan ini adalah pondasinya, apabila pada fase ini
berjalan dengan baik, fase berikutnya pun akan baik. Pra Produksi yang matang
akan memudahkan proses produksi, sebaliknya apabila memaksaakn fase ini akan
terjadi kesulitan saat produksi.
a.
Menentukan ide
cerita
Cerita dalam film adalah bagian yang paling krusial. Ide cerita
harus kuat dan dapat disampaikan kepada penonton melalui perwatakan pemain
serta adegan-adegan. Ide cerita dalam film yang hendak dibuat, haruslah memberikan warna yang baru,
ide cerita yang tak terduga oleh penonton (membuat penonton penasaran) atau
jangan mudah ditebak alurnya, serta dramatisasi dan orisinil. Banyak sekali
cara mendapatkan ide cerita, bisa dari melihat hal yang biasa terjadi di
sekitar kita, dari cerpen, novel, artikel, musik, pengalaman pribadi dan
lainnya.
b.
Plot/Pembabakan
Pada umumnya pembabakan dalm film terdiri dari 3 babak, yakni:
· Babak
1 (awal)
Menceritakan berbagai informasi penunjang cerita, yang terdiri
dari; pengenalan setting (lokasi dan situasi), ruang dan waktu peristiwa, pengenalan
tokoh, awal masalah. Ada 3 cara pengenalan tokoh, (1) memperkenalkan diri
sendiri, contohnya tokoh Miko dalam film pendek Malam Minggu Miko karya Raditya
Dika, (2) dikenalkan oleh tokoh lain: tokoh dikenalkan dengan cara dipanggil
oleh tokoh lain, (3) melalui simbol, contohnya dalam serial Power Ranger.
· Babak
2 (tengah)
Pada
babak ini adalah penekanan pada konflik/masalah yang terjadi atau antagonis vs
protagonis. Penekanan konfkil sebisa mungkin harus dirasakan oleh penonton agar
penonton tetap tertarik menikmati film tersebut.
·
Babak 3 (akhir)
Pada babak ini menunjukkan akhir
cerita. Ada 3 macam ending; (1) Happy Ending adalah tipe akhir cerita
yang bahagia, (2) Sad Ending adalah tipe akhir cerita yang menyedihkan, (3)
Gantung adalah akhir cerita yang masih samar.
c.
Sinopsis
Sinopsis dapat
diartikan sebagai ringkasan cerita yang dibuat untuk menjelaskan isi dari
sebuah film. Sinopsis terdiri dari kalimat atau paragfat yang singkat namun
menggambarkan cerita secara keseluruhan. Sebagai contoh, lihatlah tulisan yang
tertera di poster dan dibalik kotak kaset sebuah film, itulah sinopsisnya.
d.
Treatment
Treatment adalah proses merubah ide
cerita menjadi cerita yang sesungguhnya. Apabila dalam sinopsis hanya jabaran
secara singkat, dalam treatment memberikan uraian deskriptif semua alur cerita
dan itulah yang akan menjadi “bayangan” film tersebut. Sebagai contoh: dalam sinopsis
diceritakan tokoh bernama Bunga, dan pada fase ini dijelaskan secara spesifik
mengenai tokoh bernama Bunga tersebut.
Berapa usianya, bagaimana parasnya,
berpa tinggi badannya, bagaimana sifatnya, dll. Ini digunakan untuk mempermudah
saat casting pemain dan juga menjabarkan cerita secara detail.
e.
Skenario
Skenario adalah draft
akhir dalam pembentukan sebuah jalan cerita film. Semua aspek film dimasukkan
dalam skenario sehingga membentuk suatu kesatuan gambaran film yang utuh. Aspek
dalam penulisan scenario terdiri dari; (1) konsep cerita, (2) Karakterisasi
para tokoh, (3) Alur ceira, (4) rancangan adegan per adegan.
Dalam penulisan skenario terdapat
format standar tertentu yang dimaksudkan agar kru produksi memahami konsep
skenario. Format penulisan skenario terdiri dari; (1) informasi ruang dan
waktu: untuk kode dalam ruangan adalah “INT” dan untuk luar ruangan adalah
“EXT” kemudian waktu dalam ceita tersebut harus juga dituliskan, apabila diperlukan
ditulis secara rinci, contoh : sore hari jam 5.
(2) Lokasi: setelah menandakan di
dalam atau di luar ruang, tuliskan secara jelas jenis tempatnya, contoh: INT.
Kamar Tidur. Contoh tersebut menandakan adegan terjadi di dalam ruangan di
sebuah kamar tidur. (3) Pemain: menandakan tokoh siapa yang bermain saat adegan
berlangsung. Contoh: INT. Kamar Tidur. Neysa. Penulisan pemain akan mengetahui
siapa yang berperan dalam suatu adegan
Berikut adalah contoh skenario:
JADI, NEMBAK
FADE IN
Scene 01. INT. Kamar Kevin. Pagi Hari. (Hari 1)
Cast : Kevin
Kevin baru saja terbangun akibat
alarm jam digital miliknya. Jam menunjukkan pukul 04.44 14 Februari 2014. Kevin
bergegas beranjak dari kasurnya dan menuju kalender yang terpajang di dinding
kamarnya. Kevin melingkari tanggal 14 tersebut. Tak lama kemudian ia mengirim
pesan singkat ke gadis pujaannya “selamat pagi, nanti kita beralayar, siapkan
diri”. Setelah pesannya terkirim Kevin bergegas mandi.
CUT TO
Scene 02. EXT. Depan Rumah Dela. Pagi Hari. (Hari 2)
Cast : Kevin, Dela
Kevin berada di dalam mobilnya,
ia menghubungi Dela dan memberitahu ia telah di depan rumahnya. Tak lama
kemudian Dela keluar. Setelah menunggu beberapa saat, Dela masuk ke mobil
Dela
Pagi Kevin, hari ini
kita berlayar kemana?
Kevin
Ke suatu tempat yang
kamu suka tentunya
Dela
Sugoi, aku gak
nyangka orang pendiem kek kamu penuh kejutan
Kevin tak menjawab, hanya terdian
dan langsung pergi. Mereka menikmati perjalanan
CUT TO
Di
atas adalah adalah contoh penggalan sebuah skenario. Judul di tulis paling atas
rata tengah. Kemudian tanda FADE IN menandakan film akan segera dimulai atau
awalan.
Scene 01. INT.
Kamar Kevin. Pagi Hari. (Hari 1)
Cast : Kevin
|
Scene menunjukkan
adegan. Dan angka 01 adalah urutan adegan dalam film tersebut. INT menandakan
adegan terjadi dalam ruangan. Pagi Hari menunjukkan waktu terjadinya adegan.
Sedangkan (Hari1) menandakan kostum yang di gunakan.
Deskripsi mengenai film ditulis rata
kanan, sedangkan untuk dialog ditulis rata tengah. Untuk menandakan perpindahan
scene, pada baris berikutnya ditulis CUT TO rata kiri. Penentu perpindahan
scene adalah lokasi adegan, apila lokasinya berbeda maka menggunakan penulisan
scene baru, apabila adegan tersebut menunjukkan cerita flash back/masa
lalu atau kembali ke adegan sebelumnya, ditulis dengan kode CUT BACK TO.
Sedangkan untuk scene terakhir di akhiri dengan FADE OUT rata kanan.
f.
Director
of Photograph (D.O.P)
Secara bahasa Director of Photograph (D.O.P) berarti surtadara
bidang fotografi. Dalam produksi film, Director of Photograph (D.O.P) adalah
orang yang bertugas membantu sutrada untuk menentukan sudut pengambilan gambar
(angle), gerakan kamera serta komposisinya dari kaidah ilmu fotografi atau
biasa juga disebut sebagai penata kamera. D.O.P adalah orang pertama yang
melihat suatu adegan dalam bentuk visual, untuk itu, tugasnya sangat penting
saat produksi film. D.O.P dan sutradara harus terus berkomunikasi mengenai
seluruh aspek pengambilan gambar dari sebuah pengadeganan saat produksi film
tersebut agar tercapai film dengan gambar yang baik dan adegan yang hidup.
Menurut Yadi Sugandi, masalah komposisi dan pergerakan kamera dalam pengambilan gambar adalah soal rasa. Rasa bagaimana kita dapat memberikan gambar yang sesuai dengan adegan dan membuat penonton ikut masuk dalam adegan tersebut. Untuk melatih rasa, beliau menganjurkan untuk terus berlatih dan masuk/jatuh cinta pada karakter pemain yang sedang dalam pengambilan gambar. Sebaiknya D.O.P diberikan keleluasaan mengeksplor komposisi gambar dan pergerakan kamera, lalu didiskusikan bersama sutrada sebagai penerjemah skenario dalam bentuk visual.
Menganai pengambilan gambar dengan tripot ataupun tidak (hand held), tidak ada teori penekanannya, yang terpenting adalah gambar terilaht jelas dan tidak membuat penonoton pusing melihatnya. Hal ini harus diperhatiakn oleh D.O.P dan didiskusikan dengan sutradara. Untuk adegan tertentu memang dibutuhkan penggunaan kamera dengan tripot, tapi pada adegan lain, ada jenis pengambilan gambar dengan kamera yang dipegang langsung (hand held) atau tanpa menggunakan tripot.
Menurut penulis, pengambilan gambar dengan kamera menggunakan tripot biasanya dilakukan untuk adegan yang santai/datar. Contoh adegan seseorang membuka pintu atau seseoarang berjalan atau sedang duduk. Tak ada emosi yang lebih dari adegan tersebut, adegan santai dan bukan adegan yang inti. Sedangakn untuk pengambilkan gambar dengan kamera tanpa penggunaan tripot adalah untuk adegan yang tertentu, lebih memicu emosi dan penting serta sesuai adegan. Contoh, adegan mengejar copet. Dengan contoh adegan dan pengambilan gambar langsung tanpa tripot dapat membuat penonton seolah-olah ikut terhayut dalam adegan tersebut, dan film yang baik adalah film dapat membuat penontonya merasakan cerita di film itu.
Hal
yang perlu dipertimbangkan dalam sebuah film antara sutradara dan D.O.P adalah
tidak saling egois dengan pendapat masing-masing menganai seluruh aspek
pengambilan gambar. Kebiasaan yang mulai berkembang adalah usia sutradara lebih
muda dibanding dengan D.O.P. hal ini yang dilakukan Yadi Sugandi dan juga
banyak dilakukan dalam film-film Holiwood. Dari D.O.P yang usianya lebih tua, diharapkan
pengalamnya dapat berpengaruh baik dalam gambar maupun secara keseluruhan dalam
film tersebut, sedangkan sutradara muda akan menjadikan ide pengemasan cerita
dalam film lebih berwarna.