Minggu, 30 Maret 2014

Tahapan Produksi Film


1.    Pra Produksi
Pra Produksi adalah tahapan awal dalam pembuatan film. Menentukan cerita, crew, pemain, lokasi, alat dan semuanya. Tahap ini menjadi tahap yang sangat penting, bila diistilahkan ini adalah pondasinya, apabila pada fase ini berjalan dengan baik, fase berikutnya pun akan baik. Pra Produksi yang matang akan memudahkan proses produksi, sebaliknya apabila memaksaakn fase ini akan terjadi kesulitan saat produksi.

a.    Menentukan ide cerita
Cerita dalam film adalah bagian yang paling krusial. Ide cerita harus kuat dan dapat disampaikan kepada penonton melalui perwatakan pemain serta adegan-adegan. Ide cerita dalam film yang hendak  dibuat, haruslah memberikan warna yang baru, ide cerita yang tak terduga oleh penonton (membuat penonton penasaran) atau jangan mudah ditebak alurnya, serta dramatisasi dan orisinil. Banyak sekali cara mendapatkan ide cerita, bisa dari melihat hal yang biasa terjadi di sekitar kita, dari cerpen, novel, artikel, musik, pengalaman pribadi dan lainnya.

b.    Plot/Pembabakan
Pada umumnya pembabakan dalm film terdiri dari 3 babak, yakni:

·      Babak 1 (awal)
Menceritakan berbagai informasi penunjang cerita, yang terdiri dari; pengenalan setting (lokasi dan situasi), ruang dan waktu peristiwa, pengenalan tokoh, awal masalah. Ada 3 cara pengenalan tokoh, (1) memperkenalkan diri sendiri, contohnya tokoh Miko dalam film pendek Malam Minggu Miko karya Raditya Dika, (2) dikenalkan oleh tokoh lain: tokoh dikenalkan dengan cara dipanggil oleh tokoh lain, (3) melalui simbol, contohnya dalam serial Power Ranger.

·      Babak 2 (tengah)
     Pada babak ini adalah penekanan pada konflik/masalah yang terjadi atau antagonis vs protagonis. Penekanan konfkil sebisa mungkin harus dirasakan oleh penonton agar penonton tetap tertarik menikmati film tersebut.

·      Babak 3 (akhir)
Pada babak ini menunjukkan akhir cerita. Ada 3 macam ending; (1) Happy Ending adalah tipe akhir cerita yang bahagia, (2) Sad Ending adalah tipe akhir cerita yang menyedihkan, (3) Gantung adalah akhir cerita yang masih samar.

c.    Sinopsis
Sinopsis dapat diartikan sebagai ringkasan cerita yang dibuat untuk menjelaskan isi dari sebuah film. Sinopsis terdiri dari kalimat atau paragfat yang singkat namun menggambarkan cerita secara keseluruhan. Sebagai contoh, lihatlah tulisan yang tertera di poster dan dibalik kotak kaset sebuah film, itulah sinopsisnya.

d.    Treatment
Treatment adalah proses merubah ide cerita menjadi cerita yang sesungguhnya. Apabila dalam sinopsis hanya jabaran secara singkat, dalam treatment memberikan uraian deskriptif semua alur cerita dan itulah yang akan menjadi “bayangan” film tersebut. Sebagai contoh: dalam sinopsis diceritakan tokoh bernama Bunga, dan pada fase ini dijelaskan secara spesifik mengenai tokoh bernama Bunga tersebut.
Berapa usianya, bagaimana parasnya, berpa tinggi badannya, bagaimana sifatnya, dll. Ini digunakan untuk mempermudah saat casting pemain dan juga menjabarkan cerita secara detail.

e.    Skenario
     Skenario adalah draft akhir dalam pembentukan sebuah jalan cerita film. Semua aspek film dimasukkan dalam skenario sehingga membentuk suatu kesatuan gambaran film yang utuh. Aspek dalam penulisan scenario terdiri dari; (1) konsep cerita, (2) Karakterisasi para tokoh, (3) Alur ceira, (4) rancangan adegan per adegan.

Dalam penulisan skenario terdapat format standar tertentu yang dimaksudkan agar kru produksi memahami konsep skenario. Format penulisan skenario terdiri dari; (1) informasi ruang dan waktu: untuk kode dalam ruangan adalah “INT” dan untuk luar ruangan adalah “EXT” kemudian waktu dalam ceita tersebut harus juga dituliskan, apabila diperlukan ditulis secara rinci, contoh : sore hari jam 5.

(2) Lokasi: setelah menandakan di dalam atau di luar ruang, tuliskan secara jelas jenis tempatnya, contoh: INT. Kamar Tidur. Contoh tersebut menandakan adegan terjadi di dalam ruangan di sebuah kamar tidur. (3) Pemain: menandakan tokoh siapa yang bermain saat adegan berlangsung. Contoh: INT. Kamar Tidur. Neysa. Penulisan pemain akan mengetahui siapa yang berperan dalam suatu adegan

Berikut adalah contoh skenario:
JADI, NEMBAK
FADE IN
Scene 01. INT. Kamar Kevin. Pagi Hari. (Hari 1)
Cast : Kevin

Kevin baru saja terbangun akibat alarm jam digital miliknya. Jam menunjukkan pukul 04.44 14 Februari 2014. Kevin bergegas beranjak dari kasurnya dan menuju kalender yang terpajang di dinding kamarnya. Kevin melingkari tanggal 14 tersebut. Tak lama kemudian ia mengirim pesan singkat ke gadis pujaannya “selamat pagi, nanti kita beralayar, siapkan diri”. Setelah pesannya terkirim Kevin bergegas mandi.
                                                                                                                                     CUT TO
Scene 02. EXT. Depan Rumah Dela. Pagi Hari. (Hari 2)
Cast : Kevin, Dela

Kevin berada di dalam mobilnya, ia menghubungi Dela dan memberitahu ia telah di depan rumahnya. Tak lama kemudian Dela keluar. Setelah menunggu beberapa saat, Dela masuk ke mobil
 Dela
Pagi Kevin, hari ini kita berlayar kemana?
Kevin
Ke suatu tempat yang kamu suka tentunya
Dela
Sugoi, aku gak nyangka orang pendiem kek kamu penuh kejutan
Kevin tak menjawab, hanya terdian dan langsung pergi. Mereka menikmati perjalanan
                                                                                                                                     CUT TO
Di atas adalah adalah contoh penggalan sebuah skenario. Judul di tulis paling atas rata tengah. Kemudian tanda FADE IN menandakan film akan segera dimulai atau awalan. 

Scene 01. INT. Kamar Kevin. Pagi Hari. (Hari 1)
Cast : Kevin

Scene menunjukkan adegan. Dan angka 01 adalah urutan adegan dalam film tersebut. INT menandakan adegan terjadi dalam ruangan. Pagi Hari menunjukkan waktu terjadinya adegan. Sedangkan (Hari1) menandakan kostum yang di gunakan.

Deskripsi mengenai film ditulis rata kanan, sedangkan untuk dialog ditulis rata tengah. Untuk menandakan perpindahan scene, pada baris berikutnya ditulis CUT TO rata kiri. Penentu perpindahan scene adalah lokasi adegan, apila lokasinya berbeda maka menggunakan penulisan scene baru, apabila adegan tersebut menunjukkan cerita flash back/masa lalu atau kembali ke adegan sebelumnya, ditulis dengan kode CUT BACK TO. Sedangkan untuk scene terakhir di akhiri dengan FADE OUT rata kanan.   



f.     Director of Photograph (D.O.P)
Secara bahasa Director of Photograph (D.O.P) berarti surtadara bidang fotografi. Dalam produksi film, Director of Photograph (D.O.P) adalah orang yang bertugas membantu sutrada untuk menentukan sudut pengambilan gambar (angle), gerakan kamera serta komposisinya dari kaidah ilmu fotografi atau biasa juga disebut sebagai penata kamera. D.O.P adalah orang pertama yang melihat suatu adegan dalam bentuk visual, untuk itu, tugasnya sangat penting saat produksi film. D.O.P dan sutradara harus terus berkomunikasi mengenai seluruh aspek pengambilan gambar dari sebuah pengadeganan saat produksi film tersebut agar tercapai film dengan gambar yang baik dan adegan yang hidup.

Menurut Yadi Sugandi, masalah komposisi dan pergerakan kamera dalam pengambilan gambar adalah soal rasa. Rasa bagaimana kita dapat memberikan gambar yang sesuai dengan adegan dan membuat penonton ikut masuk dalam adegan tersebut. Untuk melatih rasa, beliau menganjurkan untuk terus berlatih dan masuk/jatuh cinta pada karakter pemain yang sedang dalam pengambilan gambar. Sebaiknya D.O.P diberikan keleluasaan mengeksplor komposisi gambar dan pergerakan kamera, lalu didiskusikan bersama sutrada sebagai penerjemah skenario dalam bentuk visual.

Menganai pengambilan gambar dengan tripot ataupun tidak (hand held), tidak ada teori penekanannya, yang terpenting adalah gambar terilaht jelas dan tidak membuat penonoton pusing melihatnya. Hal ini harus diperhatiakn oleh D.O.P dan didiskusikan dengan sutradara. Untuk adegan tertentu memang dibutuhkan penggunaan kamera dengan tripot, tapi pada adegan lain, ada jenis pengambilan gambar dengan kamera yang dipegang langsung (hand held) atau tanpa menggunakan tripot.

Menurut penulis, pengambilan gambar dengan kamera menggunakan tripot biasanya dilakukan untuk adegan yang santai/datar. Contoh adegan seseorang membuka pintu atau seseoarang berjalan atau sedang duduk. Tak ada emosi yang lebih dari adegan tersebut, adegan santai dan bukan adegan yang inti. Sedangakn untuk pengambilkan gambar dengan kamera tanpa penggunaan tripot adalah untuk adegan yang tertentu, lebih memicu emosi dan penting serta sesuai adegan. Contoh, adegan mengejar copet. Dengan contoh adegan dan pengambilan gambar langsung tanpa tripot dapat membuat penonton seolah-olah ikut terhayut dalam adegan tersebut, dan film yang baik adalah film dapat membuat penontonya merasakan cerita di film itu. 
Hal yang perlu dipertimbangkan dalam sebuah film antara sutradara dan D.O.P adalah tidak saling egois dengan pendapat masing-masing menganai seluruh aspek pengambilan gambar. Kebiasaan yang mulai berkembang adalah usia sutradara lebih muda dibanding dengan D.O.P. hal ini yang dilakukan Yadi Sugandi dan juga banyak dilakukan dalam film-film Holiwood. Dari D.O.P yang usianya lebih tua, diharapkan pengalamnya dapat berpengaruh baik dalam gambar maupun secara keseluruhan dalam film tersebut, sedangkan sutradara muda akan menjadikan ide pengemasan cerita dalam film lebih berwarna.

Dasar-Dasar Produksi Film



Dasar-dasar produksi film adalah acuan sebelum memproduksi sebuah film, diantaranya:

a.    Penulisan dan penyutradaraan
Menjabarkan dasar-dasar penulisan cerita untuk membuat film, penyusunan riset untuk film dokumenter, dan penerapan pembuatan sinopsis, director treatment, shootlist, script breakdown dan shooing schedule. Materi mencakup: penulisan, penyutradaraan pada tahap pra produksi, produksi dan pasca produksi.

emetb. sinamatografi
Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris cinematograhy yang berasal dari bahasa latin kinema ‘gambar‘. Sinematografi sebagai ilmu serapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung gabungkan gambar tersebut hingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide.

Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannya pun mirip. Perbedaannya fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar.Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik rangkaian gambar atau dalam sinematografi disebut montase atau montage.

Sinematografi tidaklah hanya melihat melalui kamera dan mengambil gambar. Namun tentu saja memerlukan mata yang tajam dan imaginasi yang kreatif. Ini juga memerlukan pengetahuan tentang kimia dan fisika, persepsi sensor yang tepat dan tetap fokus kepada detail. Hampir dari semua itu memerlukan kemampuan untuk memimpin dan juga mendengar, untuk menjadi bagian dari tim kreatif dan proses, dapat dengan memberikan saran yang membangun dan kritis. Sinematografer memerlukan waktu yang panjang dalam pekerjaannya dan memerlukan pengamat, waktu yang pendek untuk masuk ke dunia yang baru.

Kemudian menjelaskan tentang pengoperasian kamera dengan baik serta cara pemeliharaannya, proses perekaman yang dapat menghasilkan gambar dan suara yang baik serta mengasah inisiatif untuk menyesuaikan diri dengan keterbatasan alat. Meteri mencakup: dasar-dasar sinematografi, pengenalan teknologi kamera, teknik pengambilan gambar, tata cahaya dan kamera saat produksi.

c.    Tata Suara
Menguraikan dasar-dasar audio pada proses produksi film, baik yang dilakukan ketika perekaman suara saat pengambilan gambar, maupun kebutuhan pengisian suara saaat pasca produksi. Materi mencakup: dialog, music dan efek suara.

d.    Tata Artistik
Menjelasakn tugas-tugas yang harus dilakukan oleh departemen artistic dan mengaplikasaikan sinopsis dan director treatment menjadi breakdown artistik. Materi mencakup: tata busana, tata rias, begian set lokasi, properti dan efek spesial.
e.    Editing
Menjelaskan teori editing, teori dasar editing, pengoperasian komputer untuk editing. Kemudian memberikan pemahaman tentang pola piker editing pada tahap produksi film dan penerapan konsep editing (paper edit). Materi mencakup: sekilas tentag editing, tahapan editing, istilah teknis editing.

f.     Pesan
Membuat film adalah proses menyampaikan pesan kepada penonton. Penyampaian pesan tersebut dapat melalui dua cara, yakni pesan verbal dan non verbal.
1.    Pesan verbal
Pesan verbal dalam proses komunikasi berkaitan dengan kata, makna dan cara berfikirnya. Pemilihan kata dan makna dalam film harus dilakukan, khususnya pada dialog atau narasi.Kata hanya bermakna bila telah dirujuk pada sejumlah referen, karena penontonlah yang akan memaknainya setelah memikirkan adegan tersebut.

Pemilihan dan penggunaan kata, baik dalam dialog, maupun monolog (narasi) hendaknya dengak kata-kata yang memaknai sebuah adegan dengan bahasa yang baik, serta diketahui secara umum (mudah dimengerti) dan tidak dengan kata-kata yang kurang baik. Selanjutnya, penggunaan kata mempengaruhi batasan usia penonton, apakah anak-anak, remaja, dewasa atau semua umur.

2.    Pesan non verbal
Pesan non verbal mencakup segala ungkapan yang tidak disadari dalam bentuk gerak, isyarat, gerak tubuh, air muka, nada atau suara dan tarikan nafas. Penggunaan pesan non verbal dalam film biasanya untuk adegan-adegan detail dan menjelskannya. Selanjutnya perilaku non verbal dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
·      Body motion/ kinesics behavior, termasuk di dalamnya gesture (gerak isyarat), gerakan tubuh, pernyataan air muka, gerakan mata.
·      Physical Characteriscic (karakteristik fisik), termasuk di dalamnya  tanda-tanda fisik yang tak bergerak, seperti berat dan tinggi badan, dan sebagainya.
·      Teaching Bhevior yaitu perilaku-perilaku dalam kontak dengan orang lain, seperti usapan, bersalaman, memegang dan sebagainya yang bersifat sentuhan.
·      Paralanguage, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan lisan/bahsa/suara, termasuk kualitas bahasa seperti tekanan suara, irama/ritme, tempo, artikulasi, intonasi dan katakteristinya.
·      Praxemics, penggunaan jarak/pendekatan
·      Artifac, yaitu penggunaan lipstick, kacamata, bando, dll.
·      Environmental Factor, penggunaan perabotan, dekorasi, interior, lampu-lampu, gradasi warna, musik dan suara.
Untuk lebih memahami penjabaran di atas, berikut ini adalah contoh perilaku non verbal
·      Erect head (kepala tegak), artinya percaya diri, harga diri dan berani.
·      Bowed head (kepala tunduk), artinya kerendahan hati, pengunduran diri, rasa bersalah, kepatuhan.
·      Touching nose (memegang hidung), artinys cemas, ketakutan untuk tampil di depan umum/ demam panggung.
·      Rapid eye blinking (kedipan mata yang cepat),artinya sedang berpikir, keraguan, sulit mencari jawaban.
·      Artificial cough (batuk buatan), artinya kritik, meragukan, heran, cemas.
·      Whistling of humming (bersiul/bernyanyi kecil), artinya percaya diri.
·      Pressing head with hand (menekan kepala dengan tangan), artinya mengalami banyak kesukaran, keputusasaan, ketidakberdayaan.
·      Placing index finger alongside the nose (meletakkan telunjuk di sisi hidung), artinya keadaan sedih, kepayahan, kelelahan, curiga.
·      Closing ears with hands (menutup telinga), artinya tidak mau mendengarkan.
·      Forming ring with finger (membentuk cincin dengan jari), artinya persatuan, kepuasaan.
·      Rubbing thumb and middle thumb (menggosok-gosokkan ibu jari dengan jari tengah), artinya mencari solusi.
·      Finger or knuckle-eracking (menggosok-gosokkan jari atau buku jari) artinya frustasi, agresi, permusuhan.    
Hal di atas akan membantu sineas dalam menjabarkan film yang akan diproduksi serta sebagai identifikasi tokoh-tokoh dalam film agar mendapatkan pemaian sesuai karakter dalam tokoh yang akan ia perankan. Selanjutnya membantu rencana adegan dalam film tersebut.

Jumat, 21 Maret 2014

Nenek Lampir



“Saya terima nikah dan kawinnya anak bapak dengan mas kawin seperangkat alat solat beserta mushola dan marbot-marbotnya dibayar tunai” ku duga, itu adalah dialog ijab-kabul terkonyol yang pernah ada. Itu adalah ijab-kabul antara Marno dan Marni, pasangan sejati dari sorga. Itu adalah akad sakral yang hanya sekali seumur hidup diucapkan, hanya akadnya saja, tidak dengan perkawinan itu, setidaknya itulah yang diutarakan Marni padaku. 

Perkawinan yang tercatat pada tanggal 14 Februari 2014 adalah hasil jodoh menjodohkan oleh Nenek Lampir, ibu Marno, yang menjodohkan anak semata wayangnya dengan Marni. Sebenarnya, itu adalah jodoh yang dipaksaan oleh nenek busuk itu, apalah daya, ia adalah pakar tenung, mudah saja baginya membuat Marni terpikat oleh anaknya yang masih saja tak berguna.

Sejak tanggal itu, Marni tinggal di rumah mertua tak indah, kau tau, rumahnya memang tak indah, tak terawat, seperti rumah hantu dalam film hantu. Marni jadi babu, tak lagi jadi bunga desa yang menyebarkan wewangian. Kini, yang ada hanya wangi bacin keringatnya, itu ulah nenek busuk, nenek lampir.

Marni memasak, mencuci piring, mengepel dan semua pekerjaan rumah lainya ia lakukan sendiri, ia lemah, ia tak tahan. Suatu siang yang cerah, Marni pingsang karena terjatuh tertimpa besi jemuran pakian. Bayangkan, nenek busuk itu menggunkan besi untuk menjemur, luar biasa bukan? yang ku tau, sederhananya tali jemuran itu terbuat dari tali, tali tambang, tali plastik, tali kolor pun jadi, tapi nenek busuk itu pakai besi, sungguh licik!

Kepala Marni benjol dan ia harus di rawat di rumah sakit dan nenek busuk itu nyiyir dan berkata bahwa apa yang dialamai Marni adalah berlebihan, alay, lebay katanya, seperti cabe-cabean. Mengetahui hal itu Marni mencoba sabar dan mengelus dadanya sendiri yang tak sebesar milik jupe. Ia pasrah, ia lelah.

Setelah beberapa hari di rumah sakit agar sembuh, akhirnya ia pulang bersama pulih, tapi, kini yang sakit si nenek busuk itu. Jantungnya mendadak sakit mendengar sang anak harus membayar biaya rumah sakit sang menantu yang sangat mahal, makanya ia sakit dan berasa akan mati, padahal ia iri.

Marni melakukan apa yang telah nenek busuk itu lakukan kepadanya, si busuk itu lebay, berlebihan. Marni tak perduli dan ingin si busuk itu mati. 14 jam dari kejadian itu, si nenek busuk pun benar-benar mati. Info terakhir yang kuperoleh ia mati dibunuh Marno, anaknya sendiri yang sebenarnya adalah suami asli dari nenek sihir yang juga sama-sama ahli tenung.