Aku pertama melihatmu empat
bulan lalu. Saat itu kau sedang
cantik-cantiknya dibawah naungan pelangi. Kini, kabarmu samar. Burung-burung tak lagi mengabarkan apapun dan karang-karang membiarkan
dirinya diterjang ombak dan pasir yang terkena imbas busanya. Tapi pertemuan
pertama adalah perpisahan yang indah, bukan? meski tak lagi bersua, hal itu
meninggalkan penasaran, kenangan dan harapan yang tumbuh bersamaan.
Saat itu dirimu berlibur ke
tempatku. Sebuah pulau tersembunyi yang kau singgahi bersama kekasih dan teman
perempuan untuk menengok ikan badut menari, bintang laut bermalas-malas dan
biru air yang mendamaikan.
“kenapa
kau suka laut?” Tanyaku saat kita memandang warna air yang menyatu dengan awan di ujung penglihatan
“di
sini aku meresa tenang. Hening. Debur ombak seakan memijit-mijit otak yang lelah. Bukankah kau merasakan hal yang sama? ” aku pun tersenyum padamu,
terseret hening yang tersaji ketika duduk di sampingmu seolah ada percikan
pelangi yang melindungi mandinya bidadari.
Bersambung
….