Selasa, 15 Juli 2014

Harapan yang Terdampar


Aku pertama melihatmu empat bulan lalu. Saat itu kau sedang cantik-cantiknya dibawah naungan pelangi. Kini, kabarmu samar. Burung-burung tak lagi mengabarkan apapun dan karang-karang membiarkan dirinya diterjang ombak dan pasir yang terkena imbas busanya. Tapi pertemuan pertama adalah perpisahan yang indah, bukan? meski tak lagi bersua, hal itu meninggalkan penasaran, kenangan dan harapan yang tumbuh bersamaan.

Saat itu dirimu berlibur ke tempatku. Sebuah pulau tersembunyi yang kau singgahi bersama kekasih dan teman perempuan untuk menengok ikan badut menari, bintang laut bermalas-malas dan biru air yang mendamaikan.


“kenapa kau suka laut?” Tanyaku saat kita memandang warna air yang menyatu dengan awan di ujung penglihatan

“di sini aku meresa tenang. Hening. Debur ombak seakan memijit-mijit otak yang lelah. Bukankah kau merasakan hal yang sama? ” aku pun tersenyum padamu, terseret hening yang tersaji ketika duduk di sampingmu seolah ada percikan pelangi yang melindungi mandinya bidadari.


Bersambung ….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar