Minggu, 28 September 2014

Dilelang: Cerpen Penuh Kenangan Beserta Penghianatan



Mungkin kau akan tertawa dan menganggap (judul) cerpen ini hanyalah lelucon belaka, atau, bagi yang mengenaliku akan mengira cerita ini adalah bentuk ungkapan perasaan dari pengalaman masa lalu yang mengajarkan betapa pentingnya kekecewaan, pengabaian yang sistemis dan massif. Ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu di awal cerita. Ini bukanlah kisahku sebagai penulisnya, melainkan kisah yang ku tuliskan dan hendak ku lelang untuk menyambung hidup, mempertahankan hak setelah mendapatkan penghianatan,  ketidakdugaan yang menyeret kita kembali terjun ke jurang luka lama yang telah menyiksa tiga puluh dua tahun lamanya. 

Mereka mendekat dipenghujung waktu, waktu menjelang penentuan. Mereka memilih bergabung bersama kita, mempertahankan hal baik yang sudah ada dan akan melanjutkannya. Bagiku, hal itu lebih dari sebuah kabar gembira untuk kita.

Semua dipersiapkan, meleburkan siapa kita, siapa mereka menjadi kami. Komunikasi berjalan, silaturahim dieratkan, hingga, pada hari penentuan mereka berkata “kita satu tujuan kawan, hanya aku memilih jalan beraspal, bukan jalan lain yang berliku dan berbatu, itu akan membuat kami berdarah-darah”. Itulah sarannya yang kita ikuti.

Pada pertengahan perjalanan, semua masih sesuai rencana. Hingga hal tak terduga tiba, hujan yang begitu deras tiba-tiba terjun ke bumi, membasahi kami dan membuat aspal yang kita lalui menjadi licin, amat sangat licin hingga kita terjatuh, terperosok dan terhempas dan mereka yang katanya “sejalan” tetap berdiri tegak menuju jalan keluar meninggalkan kita yang bercucuran darah, ditampar kenyataan dan ketidakberdayaan. 

Mereka sudah tiba di tujuan
“maaf kawan, aku tak melihatmu terjatuh di jalan yang ku pilih. Aku prihatin, semoga kalian mampu sampai tujuan. Berjuanglah hingga titik darah penghabisan!” kata mereka melalui video yang tersebar dimana-mana.

Itulah sekelumit kisah penghianatan yang hendak ku lelang. Sesungguhnya aku tak menginginkan uang, jabatan atau apapun. Aku hanya ingin tulisan ini diapresiasi dan berharap ada pelajaran yang dapat kita renungkan dari cerita di sebuah negeri kaya raya yang sangat lucu.

Bagaimanapun pilihan hanya ada dua: ya atau tidak, dan semua benar munurut sudut pandang masing-masing. Aku ingin kita tak saling meributkan pilihan itu. Marilah kita coba untuk mau mengubah sudut pandang dari kacamata mereka, dan mereka pun baiknya begitu agar negeri yang lucu tadi tak jadi lelucon bagi rakyatnya sendiri. Itulah impianku, harapan yang harus tetap ada, karena dengan berharap, kita pasti bersemangat menuju tujuan, bahkan hingga titik darah penghabisan, demi kita bersama, rakyat Indonesia.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar