Rabu, 05 November 2014

Bayi



Malam jatuh ke bumi, meremangkan jalan-jalan. Ranum bulan tak segan menampakkan diri dan kedinginan bersekutu sunyi. Tak ada lolongan anjing atau serigala. Desis nyamuk di atas telinga lari terbirit, yang terdengar hanya nafas bayi. Bayi manusia. 

Sudah dua bulan saya mengabdikan diri di tempat ini. Tempat yang menyimpan rekaman pertumbuhan dan perkembangan anak manusia. Tempat yang bisa membuatmu tertawa dalam tangis atau memilih tangis dalam tawa. 

“bikinnya mau, ngurusnya enggak. Bikin repot” keluh teman saya saat membersihkan seorang bayi lelaki lalu memakaikannya popok. Saya membalas ucapan itu dengan senyum ketika melintas di hadapnya untuk memandikan bayi lainnya. 

Bersambung ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar