“keikhlasan
bukan soal merelakan, namun mengembalikan”
Itulah
kata-kata yang tak lazim yang ku temui di dalam sebuah wc umum di kota
metropolitan. Aku agak rancu dengan adanya kata-kata itu. Yang ku tahu,
biasanya, tulisan yang tertera di wc adalah himbauan untuk kembali menyiram,
larangan membuang softek ke dalam lubang wc, dilarang onani dan juga membuang
bayi. Tapi, tulisan yang terpampang di depan wajah ketika aku membuang hajat
sungguh menyita perhatian. Apakah ini wahyu yang tertinggal saat malaikat
sedang buang air besar? Jika ditelaah lebih dalam, kata-kata ini sungguh
menentramkan, mendamaikan. Keikhlasan bukan soal merelakan, namun
mengembalikan.
Ku
ambil gayung berisi penuh untuk menimbun sisa makanan yang tak lagi
termanfaatkan. Sudah tujuh gayung, namun tahi itu tak juga menghujam ke dasar
bumi. Ah, wc umum memang kurang perhatian. Ku ambil air segayung lagi, seketika lobang wc itu
melebar bagai mulut ikan yang mencuap-cuap seperti merapalkan sesuatu hingga
lubang itu menelan seluruh benda dipermukaannya.
Ya Tuhan, wc-nya
hidup!
Aku loncat menjauh dan
memepetkan tubuh ke pintu tanpa celana.
“jangan
malu anak muda, aku sudah biasa melihatnya”
Aku
terdiam mendengar ucapan itu. ucapan wc yang baru saja menelan tahiku.
“aku
tergoda dengan pemikiranmu, wahai pemuda, bahwa, kata-kata yang tertulis di
pintu itu adalah lebih dari sekedar kata pemanis belaka. Biasanya, ketika ada
yang buang air, ia hanya memandang tulisan itu tanpa memikirkan makna tersiratnya.
Namun kau, aku merasakan hal yang berbeda. Aku dapat membaca pikiran setiap
pelangganku, dan ku rasa, kita sepemikiran tentang itu” ujar sang wc
Aku
tak ingin berkata apa-apa. Aku hanya ingin bersih-bersih lalu memakai celana
dan segera pergi. Belum usai ku pakai celana, ia kembali bercerita
“satu
jam lalu ada seorang pencuri yang datang padaku. Ia ke sini untuk membongkar
hasil kerjanya; sebuah tas perempuan. Pencuri itu hanya mengambil uang dan
telepon genggam dan membiarkan barang
lainnya. Sebelum ia keluar, aku berhasil memancing perhatiannya agar membaca
tulisan itu. Ia membacanya sekilas. Ia pikir, ia telah ikhlas
melakukan perbutan itu dan tak menyadari bahwa Tuhan akan mengembalikan hasil
perbuatannya”
“jadi,
kau berusaha membuatnya tobat?”
“aku
hanya berusaha untuk saling mengingatkan”
Belum
sempat aku kembali bertanya, tiba-tiba ada yang menggedor pintu seraya berkata “woy,
cepatan. Kebelet boker nih”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar