Selasa, 27 Januari 2015

WC



“keikhlasan bukan soal merelakan, namun mengembalikan”


Itulah kata-kata yang tak lazim yang ku temui di dalam sebuah wc umum di kota metropolitan. Aku agak rancu dengan adanya kata-kata itu. Yang ku tahu, biasanya, tulisan yang tertera di wc adalah himbauan untuk kembali menyiram, larangan membuang softek ke dalam lubang wc, dilarang onani dan juga membuang bayi. Tapi, tulisan yang terpampang di depan wajah ketika aku membuang hajat sungguh menyita perhatian. Apakah ini wahyu yang tertinggal saat malaikat sedang buang air besar? Jika ditelaah lebih dalam, kata-kata ini sungguh menentramkan, mendamaikan. Keikhlasan bukan soal merelakan, namun mengembalikan.


Ku ambil gayung berisi penuh untuk menimbun sisa makanan yang tak lagi termanfaatkan. Sudah tujuh gayung, namun tahi itu tak juga menghujam ke dasar bumi. Ah, wc umum memang kurang perhatian. Ku ambil air segayung lagi, seketika lobang wc itu melebar bagai mulut ikan yang mencuap-cuap seperti merapalkan sesuatu hingga lubang itu menelan seluruh benda dipermukaannya. 


Ya Tuhan, wc-nya hidup!

Aku  loncat menjauh dan memepetkan tubuh ke pintu tanpa celana.

“jangan malu anak muda, aku sudah biasa melihatnya”

Aku terdiam mendengar ucapan itu. ucapan wc yang baru saja menelan tahiku.

“aku tergoda dengan pemikiranmu, wahai pemuda, bahwa, kata-kata yang tertulis di pintu itu adalah lebih dari sekedar kata pemanis belaka. Biasanya, ketika ada yang buang air, ia hanya memandang tulisan itu tanpa memikirkan makna tersiratnya. Namun kau, aku merasakan hal yang berbeda. Aku dapat membaca pikiran setiap pelangganku, dan ku rasa, kita sepemikiran tentang itu” ujar sang wc


Aku tak ingin berkata apa-apa. Aku hanya ingin bersih-bersih lalu memakai celana dan segera pergi. Belum usai ku pakai celana, ia kembali bercerita


“satu jam lalu ada seorang pencuri yang datang padaku. Ia ke sini untuk membongkar hasil kerjanya; sebuah tas perempuan. Pencuri itu hanya mengambil uang dan telepon genggam  dan membiarkan barang lainnya. Sebelum ia keluar, aku berhasil memancing perhatiannya agar membaca tulisan itu. Ia membacanya sekilas. Ia pikir, ia telah ikhlas melakukan perbutan itu dan tak menyadari bahwa Tuhan akan mengembalikan hasil perbuatannya”

“jadi, kau berusaha membuatnya tobat?”

“aku hanya berusaha untuk saling mengingatkan”


Belum sempat aku kembali bertanya, tiba-tiba ada yang menggedor pintu seraya berkata “woy, cepatan. Kebelet boker nih”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar