Rabu, 10 Februari 2016

PERKARA SEBUTIR KELAPA MUDA



Kata dokter, sekitar 10 hari ke depan perut isterinya akan bongkar muat. Maka, jadilah ia suami yang siap siaga sebab ini adalah anak pertama bagi mereka berdua. Ia akan memilih langsung pulang ke rumah ketika jadwal piket malamnya rampung. Ia juga akan menolak bila diajak mampir ke tempat terang atau bahkan ke tempat yang remang sekalipun.

Hari itu ia begitu sibuk mengurus perlengkapan tugas rekan-rekannya. Maklum, dua hari lalu terjadi teror dan baku tembak di ibu kota yang menyebabkan tiap aparat keamanan harus eksra menciptakan suasana kondusif di masyarakat. Walhasil karena terlalu sibuk ia tak menyadari bahwa si isteri mengiriminya pesan singkat agar ketika pulang ia dibawakan sebutir kelapa muda yang legit dagingnya.

Seperti kita tahu, bahwa bagi setiap wanita yang perutnya membesar mereka selalu menginginkan hal-hal yang mengada-ada. Katanya, itu kehendak si jabang bayi yang harus dituruti. Menyadari adanya pesan dari isteri, si suami kalang kabut. Ia terlihat seperti orang linglung: hanya berdiri di muka pos jaga dan mengabaikan malam yang kian lahap menangkap sunyi. Bagaimana ia tak pusing, ia harus mencari penjual dugan pukul sembilan malam. Mustahil, bukan?  

Disela kebingungannya, ia teringat bahwa di ujung jalan kampung sebelah rumahnya ada rumah seorang janda yang di halamannya tertancap pohon kelapa hijau. Ia begitu paham tentang pohon itu sebab ia yang menanam. Kini, ia kembali kebingungan. Bagaimana caranya agar ia kembali menemui mantan isterinya untuk meminta sebutir kelapa muda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar