Sore itu hadir kembali bersama impian yang hampir terwujud. Ia datang
lagi bersama aroma teh yang itu-itu saja, tanpa susu dengan gelas yang
menjulang tinggi menandakan kau adalah penikmat teh sejati.
Teh itu kau seduh bersama peluh, berharap menguap bersama asap dari
panasnya air termos biru. Hening, dan segera kau tenggak.
Teka-teki itu awalnya kau buat bukan begitu, melainkan teka-teki
tinggal isi. Teka-teki yang tak menguras emosi namun malah membenci.
Membenci kebersamaan bersama, di pulau itu, harapan itu, dan harapan
lain yang tenggelam bersama kapal yang karam.
Teka-teki itu bukan tentang kita, kau dan aku. Melainkan tentang alam
yang ada semua di dalamnya. Ada merah meletus membara, dan coklat mengepung
semua dan masih ada lagi yang lainnya.
Ini teka-teki, jangan kau duga dan menebak. Tak hanya mendatar dan
menurun, ada menyerong, ada menikung, dan ada juga yang berkelok, entahlah. Teka-teki
itu biar jadi teka-teki, sampai mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar