Rabu, 19 Februari 2014

Mak comblang di warung Mak Ijak



Berkunjung sendiri ke tempat yang pernah kau sambangi bersama mantan kekasih adalah bentuk independensi serta penutup rasa rindu untuk kembali bersamanya meski kau belum punya pengganti. Alasannya, kau “cuma” berkunjung, tak ada maksud lain, hanya itu, walau kata “cuma” ada lebihnya. Kisah ini ku peroleh dari Marno yang sabtu lalu memiliki janji bertemu dengan Marni dan Julekha. Kau tau, Marno dan Marni adalah kawan lama, lama sekali, bahkan sebelum mereka ada di bumi, mereka telah saling mengenal satu sama lain. Perjanjian itu bukanlah perjanjian Roem-Royen atau Linggarjati yang sangat penting, namun perjanjian di sebuah warung kopi pinggir jalan itu sangat menegangkan, tegang bagi mereka yang menegang.

Dua hari sebelum sabtu itu, saat Marno menjajah sawahnya, datanglah Marni mengahmpiri dan membawa kabar gembira untuknya. Marni ingin menjodohkan Marno dengan Julekha, sepupunya. Marno tak kalap mendengarnya, ia senang gembira dan tak sabar untuk bersua, disiapkan segalanya unutk pertemuan pertama. Saat itu tahun 1974, tak ada Path, Line, Twitter, Facebook atau freindster yang bersarang laba-laba. Di tahun itu Marno berupaya untuk memikat, meski ia dicomblangi. Marni melakukan percomblangan karena tak tega dengan kondisi Marno yang itu-itu saja, meski tak jauh berbeda dengan Julekha. Marni yang satu angkatan dengan Marno di sekolah rakyat paham betul wanita macam apa yang Marno mau, dan percomblangan ini sudah tepat, tepat waktu dan tepat sasaran. 

Di warung kopi milik Mak Ijah itu, suasana pengunjung lumayan ramai, ada 4 meja yang masing-masing meja ada 4 kursi pula. Meja 1 adalah tempat bagi Marno, Marni dan Julekha, 2 meja lainnya diisi keluarga Julekha yang ingin mengintai Marno mendekatinya, meja lainnya dibayar agar tetap kosong dengan bangku yang kosong juga. Jadilah pertemuan di warung kopi itu sebagai pertemuan yang direncanakan manusia dan Tuhannya. Marno tiba pukul 4.14 sore, sedang Marni, Julekha dan yang lainnya sudah ada sejak Ashar tiba. Marno kikuk saat itu, ini adalah pengalaman pertama baginya.  

“silakan duduk”
Ujar Marni sembari menyalami Marno dan memainkan jari tengahnya.
Marno terkejut dengan sambutan itu dan tak membalasnya, lagi-lagi Marno kikuk dibuatnya. Setelah merebahkan bokongnya di kursi kayu yang tak ada empuk-empuknya, Marni kembali memulai pembicaraan.
“kenalkan, ini Julekha”
Julekha menjulurkan tangan ke arah Marno dan Marno langsung menyambar sambil bergetar.
“Marno Bin Selamet” balas Marno
Kau tau, jaman itu penggunaan nama yang diikuti dengan kata bin akan memberikan dampak yang berbeda, tujuannya agar Marno selamat dunia akherat, bukan karena nama bapaknya Selamet. Itu adalah trik yang biasa dilakukan orang-orang jaman dulu. Sama sepertimu yang kini bersalaman dengan sang kekasih dan berkata “masa depanmu” yang beraharap ia menjadi isterimu kelak.

Kembali ke pertemuan di warung kopi itu, setelah Marno dan Julekha bersalaman, Marni memecah keheningan dengan memanggil asisten Mak Ijah untuk memesan minuman. Tanpa buku menu dan tanpa tawaran pilihan yang tepat, Marni memesan teh susu dan Julekha yang terlihat gugup meminta minuman yang sama. Sedang perihal Marno, ia memilih kopi arang, itu membuatnya gagah ketika menelan arang, bukan kopi hitam.
Warung Mak Ijah makin hening, saudara Julekha yang kepo terus saja menatap tajam ke arah Marno, menyadari hal itu, Marni memberikan kode kepada mereka untuk menyingkir dari sana. Akhirnya Marni pergi meninggalkan meja 1 yang diikuti saudara Julekha yang berjumlah 7. Jam tua jaman Belanda berangka 4.54 Suasana makin hening dan Marno masih kikuk.
“kamu lelaki pertama yang aku temui setelah 14 tahun di bui”
Marno tersendak mendengar hal itu, dan ketika ia ingin menjawab, Julekha kembali mencerocos saja, begini ucapnya
“bui itu kamarku, bukan penjara besi”
Marno hanya mengangguk semabari kedua tangannya memeluk erat cangkir besi berisi kopi. Dan dengan kikuk, Marno menjwab
“ini pertama kali aku dicomblangi” dan langsung menenggak kopi.
“aku ingin kita saling mengenal lebih jauh” cerocos Julekha
“baik, apabila itu maumu, aku permisi dulu, masih ada urusan duniawi, aku permisi” jawab Marno
Setelah izin dan meninggalkan uang monyet 500 rupiah di meja, Marno pergi dari situ dan dari Julekha yang sendiri, sendiri dengan harapan dapat berdua dengan Marno tentunya. 




Keesokan harinya kami berkumpul di tempat biasa untuk hal yang biasa pula. Saat itu jam 1 siang dan suasana warteg mpok Jujum sanagat ramai; tempat antrenya padat merayap bak semut berbaris yang menuju gelas sisa tehmu pagi tadi. Aku, Bejo dan Mrno harusnya berada di tempat ini kemarin malam pukul 7, tapi hal itu tak akan poernah terjadi karena Marno mengalami kesialan yang tak akan mudah untuk ia lupakan dalam waktu yang cukup lama. Rencananya kami akan membahas urusan duniawi yang makin hari makin runyam.
Malam itu bukan malam jumat kliwon, tapi malam dimana Marno mengendarai motor dengan kecepatan biasa-biasa saja: tak ngebut dan pelan, santai. Setelah membelah jalan yang semuanya beraspal Marno terperosok ke selokan yang lumayan dalam. Marno hanya luka-luka tapi motor kreditannya itu hancur, seperti angannya pada Julekha: remuk berkeping-keping. Marno terjun ke selokan berkedalaman 30 cm itu disebabnya pandangannya terhalau cahaya yang menyilaukan. “ada cewek cakep, untung gak ketabrak” ujar Marno dan kami prihatin atas apa yang ia alami. “woy, kalo bawa motor liat-liat dong, kan eke nyaris ketabrak, iih” kata manusia itu dan kami tertawa sejadinya. Kau tau, terkadang kesedihan datang bersama kebahagiaan, ruwet memang. Tapi biarlah, kehidupan harus terus berjalan, tak perduli kau patah hati, patah tulang atau tak ada yang patah, hidup harus terus berjalan.
 
Bersambung ………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar