Rabu, 15 Januari 2014

Senin, Zulaicha dan Pulau Tegal



Ku kira dengan kau membaca cerita singkat ini lebih baik bagimu ketimbang membaca buku tabungan, atau mengeluh karena lenganmu yang bertambah gendut atau sekedar membenci timbangan. Manusia selalu berkata semua tak ada yang sempurna, kecuali ciptaan Tuhan. Aku tak setuju, karena ku pikir kita memiliki ejaan yang disempurnakan, meski itu juga ciptaan Tuhan. 

Cerita singkat ini kuperoleh dari Zulaicha, Annisa Zulaicha lengkapnya. Seorang gadis yang mau berbagi denganku, usianya tujuhbelas meski terkadang berpenampilan bak abg empatbelas. Aku tak tahu persis berapa usianya, yang ku tahu, ini kisahnya. Selamat membaca dan terima kasih telah membaca. 

Kau tahu, senin itu selalu sama seperti senin yang kau kira. Membosankan, itu-itu saja. Senin yang selalu tak diharapkan sebagian manusia, padahal senin itu awal kau mencari dana. Bagi yang masih berseragam, mereka akan upacara bendera, padahal mendengar amanat pembina yang terkadang diabaikan. Ada yang berpura sakit ke uks, datang bulan, bersembunyi di meja guru atau bahkan di lemari kelas yang lapuk. Ada juga yang bermain hp atau sekedar bermain mata dengan hp. Bagi yang memiliki belahan hati, mereka akan sesekali mencuri pandang dan berharap senyum milik kekasihnya dengan keringat yang meleleh dari belakang telinga, itu membuatnya tampak eksotis bak turis yang berjemur di pinggir pantai.

Bagi yang sudah bekerja, mereka akan menikmati zona diamana harus bertemu dengan kerepotan duniawi. Dan apabila kau ingin merepotkan orang lain, yakinilah mereka tak meresa kerepotan karena urusan akhirat lebih menjanjikan meski urusan duniawi mereka berorientasi pada urusan akhirat. 

Senin itu, Zulaicha bangun seperti biasa, jam empat dini hari. Katanya, waktu dari jam dinding pemberian ayahnya itu menandakan waktu subuh. Ia keliru, karena waktu subuh dimulai sejak azdan subuh berkumandang, bukan pukul empat. Matanya masih sembab, itu hasil lelahnya raga dari perjalanan dihari sebelumnya. Minggu itu, Zulaicha, bersama teman tak sebaya berkunjung ke Pulau Tegal. Ya, nama pulau yang pastinya mengingatkanmu pada seorang komedian dengan logat yang khas, Cici Tegal namanya. 

Di minggu itu, Zulaicha bersama manusia lain yang memiliki niat mulia berencana berbagi ilmu dengan bocah-bocah Pulau Tegal tentunya. Di pulau itu tak ada hantu, karna Zualicha tiba di pagi hari, empatbelas hari sebelum ia merasa diikuti oleh gadis berkacamata yang selalu membayanginya.  Minggu yang tak  biasa itu, Zulaicha berhijab dengan kain bermerek pelangi, ku kira itu akan membuat harinya berwarna dan istikomah menutup aurat.

Mereka tiba di pulau dengan kerepotan dan keriangan. Repot karena harus turun dari perahu saat air laut sedang pasang. Air asin dari keringat dan pipis ikan itu menutupi hamparan pasir yang membentang hingga kau harus melipat celana untuk melewatinya. Sedang perihal keriangan adalah sambutan rindu dari bocah-bocah pemilik mimpi luar biasa, meski rindu soal menunggu dan gengsi yang saling beradu.

Zulaicha dan lainnya ke pulau itu untuk membimbing bocah-bocah agar bisa membaca dan menulis, maklum di sana tak ada sarana pendidikan, dan apabila itu ada, tak akan ada. Diantara sesak cahaya yang menyeruak di sela dedaunan, mereka berteduh tanpa peluh dan mulai belajar.  Tak ada seragam, ruang kelas, bahkan alas kaki mereka adalah tanah merah. Mereka mulai belajar mengeja “ini ibu budi, ibu budi belum mandi”. Kalimat “ini ibu budi” pastinya kau telah paham betul, sedang perihal “ibu budi belum mandi” itu berdasarkan ia telah mati, jadi tak bisa mandi lagi. 


Saat itu Zulaicha tak bau, ia mengenakan minyak nyong-nyong yang itu-itu saja. Katanya, dengan nyong-nyong itu, ia jadi wangi, tak bau lagi. Ku kira itu daya tarik bagi makhluk sejenis, lawan jenis dan makhluk dari jenis lainnya. Yang lain belajar membaca dan yang lainnya bernyanyi. Zulaicha memilih bernyanyi karena suaranya seberapa. Lagu kupu-kupu yang didendangkan, ia girang saat memandang semangat ceria bocah-bocah bernyanyi, begini liriknya “lima jari tangan kananku, lima jari tangan kiriku, ku gabung jadi satu semuanya sepuluh, itu seperti kupu-kupu. Kupu-kupu terbang tinggi, bunga mekar dihinggapi, sayapnya warna warni sungguh indah sekali, kupu-kupu ciptaan ilahi”

Lagu itu baru pertama ku dengar dan langsung ku suka, sama seperti dia. Selesai bernyanyi, Zulaicha tak lupa menghadap Tuhan, berdoa agar semua mendapat pencerahan. Ia ingin membahagiakan orang tuanya, begitupun dengan kau, aku dan yang lainnya tak terkecuali bocah-bocah pulau tegal. Mereka hanya ingin belajar, sama sepertimu dan kita, mereka hanya ingin setara meski disetarakan. Mulialah engkau wahai Zulaicha dan semua yang terus membagi kebahagiaan di bumi.


3 komentar: