Ku kira dengan kau membaca
cerita singkat ini lebih baik bagimu ketimbang membaca buku tabungan, atau
mengeluh karena lenganmu yang bertambah gendut atau sekedar membenci timbangan.
Manusia selalu berkata semua tak ada yang sempurna, kecuali ciptaan Tuhan. Aku
tak setuju, karena ku pikir kita memiliki ejaan yang disempurnakan, meski itu
juga ciptaan Tuhan.
Cerita singkat ini kuperoleh
dari Zulaicha, Annisa Zulaicha lengkapnya. Seorang gadis yang mau berbagi
denganku, usianya tujuhbelas meski terkadang berpenampilan bak abg empatbelas. Aku tak tahu
persis berapa usianya, yang ku tahu, ini kisahnya. Selamat membaca dan terima
kasih telah membaca.
Kau tahu, senin itu selalu
sama seperti senin yang kau kira. Membosankan, itu-itu saja. Senin yang
selalu tak diharapkan sebagian manusia, padahal senin itu awal kau mencari dana.
Bagi yang masih berseragam, mereka akan upacara bendera, padahal mendengar
amanat pembina yang terkadang diabaikan. Ada yang berpura sakit ke uks, datang
bulan, bersembunyi di meja guru atau bahkan di lemari kelas yang lapuk. Ada
juga yang bermain hp atau sekedar bermain mata dengan hp. Bagi yang memiliki
belahan hati, mereka akan sesekali mencuri pandang dan berharap senyum milik
kekasihnya dengan keringat yang meleleh dari belakang telinga, itu membuatnya tampak
eksotis bak turis yang berjemur di pinggir pantai.
Bagi yang sudah bekerja,
mereka akan menikmati zona diamana harus bertemu dengan kerepotan duniawi. Dan apabila
kau ingin merepotkan orang lain, yakinilah mereka tak meresa kerepotan karena
urusan akhirat lebih menjanjikan meski urusan duniawi mereka berorientasi pada
urusan akhirat.
Senin itu, Zulaicha bangun
seperti biasa, jam empat dini hari. Katanya, waktu dari jam dinding pemberian ayahnya
itu menandakan waktu subuh. Ia keliru, karena waktu subuh dimulai sejak azdan subuh
berkumandang, bukan pukul empat. Matanya masih sembab, itu hasil lelahnya raga dari
perjalanan dihari sebelumnya. Minggu itu, Zulaicha, bersama teman tak sebaya berkunjung
ke Pulau Tegal. Ya, nama pulau yang pastinya mengingatkanmu pada seorang komedian
dengan logat yang khas, Cici Tegal namanya.
Di minggu itu, Zulaicha
bersama manusia lain yang memiliki niat mulia berencana berbagi ilmu dengan
bocah-bocah Pulau Tegal tentunya. Di pulau itu tak ada hantu, karna Zualicha
tiba di pagi hari, empatbelas hari sebelum ia merasa diikuti oleh gadis berkacamata
yang selalu membayanginya. Minggu yang
tak biasa itu, Zulaicha berhijab dengan
kain bermerek pelangi, ku kira itu akan membuat harinya berwarna dan istikomah
menutup aurat.
Mereka tiba di pulau dengan
kerepotan dan keriangan. Repot karena harus turun dari perahu saat air laut
sedang pasang. Air asin dari keringat dan pipis ikan itu menutupi hamparan
pasir yang membentang hingga kau harus melipat celana untuk melewatinya. Sedang
perihal keriangan adalah sambutan rindu dari bocah-bocah pemilik mimpi luar
biasa, meski rindu soal menunggu dan gengsi yang saling beradu.
Zulaicha dan lainnya ke pulau
itu untuk membimbing bocah-bocah agar bisa membaca dan menulis, maklum di sana
tak ada sarana pendidikan, dan apabila itu ada, tak akan ada. Diantara sesak
cahaya yang menyeruak di sela dedaunan, mereka berteduh tanpa peluh dan mulai
belajar. Tak ada seragam, ruang kelas,
bahkan alas kaki mereka adalah tanah merah. Mereka mulai belajar mengeja “ini
ibu budi, ibu budi belum mandi”. Kalimat “ini ibu budi” pastinya kau telah
paham betul, sedang perihal “ibu budi belum mandi” itu berdasarkan ia telah
mati, jadi tak bisa mandi lagi.
Saat itu Zulaicha tak bau, ia
mengenakan minyak nyong-nyong yang itu-itu saja. Katanya, dengan nyong-nyong
itu, ia jadi wangi, tak bau lagi. Ku kira itu daya tarik bagi makhluk sejenis,
lawan jenis dan makhluk dari jenis lainnya. Yang lain belajar membaca dan yang
lainnya bernyanyi. Zulaicha memilih bernyanyi karena suaranya seberapa. Lagu
kupu-kupu yang didendangkan, ia girang saat memandang semangat ceria
bocah-bocah bernyanyi, begini liriknya “lima jari tangan kananku, lima jari
tangan kiriku, ku gabung jadi satu semuanya sepuluh, itu seperti kupu-kupu.
Kupu-kupu terbang tinggi, bunga mekar dihinggapi, sayapnya warna warni sungguh
indah sekali, kupu-kupu ciptaan ilahi”
Lagu itu baru pertama ku
dengar dan langsung ku suka, sama seperti dia. Selesai bernyanyi, Zulaicha tak
lupa menghadap Tuhan, berdoa agar semua mendapat pencerahan. Ia ingin
membahagiakan orang tuanya, begitupun dengan kau, aku dan yang lainnya tak
terkecuali bocah-bocah pulau tegal. Mereka hanya ingin belajar, sama sepertimu
dan kita, mereka hanya ingin setara meski disetarakan. Mulialah engkau wahai Zulaicha dan semua yang terus membagi kebahagiaan di bumi.
Lanjutan nyaaaa mana
BalasHapusiya, sabar atuh :)
BalasHapusHuahahaa siap
BalasHapus