Jumat, 20 Desember 2013

Tipu Muslihat



Ini adalah sekelumit kisah Marno yang mencintai Marni, gadis desa sebelah yang selalu ia jumpa di ladang yang seberapa. Awal mereka jumpa terjadi ketika kandungan ibu Marno berusia 39 hari, 23 jam, 35 detik. Saat itu Marno hendak dititipkan oleh Tuhannya ke kandungan sang ibu. Ketika Marno ditanya oleh Tuhan mengenai Ke-Esaan Tuhannya, disitulah Marno melirik Marni tanpa busana untuk pertama kali dan langsung merasakan getaran cinta dan dibawah perutnya. Marno dilahirkan ke dunia lebih cepat 24 menit 14 detik dibanding Marni. Meski nama mereka seperti bayi kembar, mereka bukanlah sodara seayah, sekandung atau sepersusuan. Mereka adalah pasangan yang diharapkan Marno.

Marni adalah bunga desa, tapi tak perawan lagi. Ia kehilangan mahkota yang dicuri setan tepat 40 hari setelah ia mendengar kabar ada pesawat yang hilang di lautan. Namun, apapun itu, Marno tetap menanti Marni, mencintai dan hanya bisa memandangnya dari gubuk reot tempat menyembunyikan ari dari sengat matahari. Di hari ke 40 itu, Marni merasa sakit di perutnya. Merasa ada makhluk tak halus yang menggerayangi tubuhnya. Itu hanya ia ceritakan pada ibu kandungnya, meski ia punya ibu tiri juga. Tak ada yang tau mengenai hal itu, kecuali mereka yang tau dan Tuhannya.

Sabtu pagi, sebagaimana biasa bukan hari libur bagi petani, Marno menuju ladang dengan bibir yang tak dapat tertutup rapat, memang begitu sejak lahir. Kata ibunya, itu akibat ia selalu menyusu hingga usia 17, entah itu alasan yang mengada atau menang ada. Marno menggantungkan cangkul di pundak kanan dan sebotol air bening lengkap dengan pigur sachet di tangan kiri, itu membuatnya merasa gagah di tanah yang ia jajah.

Seperti biasa, ia membersihkan rumput yang menyeruak dinatara padi harapan bangsa. Rumput yang sebenarnya memberikan kita oksigen yang digratiskan Tuhan. Meski terkadang Marno ragu, karna ia merasa bagai rumput itu dalam hubungan yang terjalanin antara Marni dan mandor Teguh. Hubungan mereka terjadi karena cinta lokasi, tapi ku pikir mereka bercinta di lokasi, layaknya suami-isteri.

Dicangkulnya rumput itu dengan emosi, meluapkan ketidaknyamanan mata melihat orang dicinta bersama yang lain. Marno berteriak, bak orang yang menderita kesedihan tiada tara. Keringat anyep dan asin dari dahinya bercampur air mata mambanjiri sawah. Marno tak dapat mengelak, Marni adalah cinta sejatinya. Kecemburuan itu membuat Marno menghalalkan hal yang halal, halal dalam pikirnya.

Marni telah dilamar oleh juragan dengan brewok tak terawat. Katanya, brewok itu adalah jimat yang membuatnya orang kaya di desa. Tak ada yang boleh menyentuh brewok itu, termasuk pemiliknya. Terkecuali memegangnya dengan tangan yang telah dilumuri air sisa memandikan mayat. Marno tahu, ketika seorang gadis telah dilamar, lelaki lain tak bisa melamarnya juga sebelum ada kejelasan pada lamaran yang pertama. Marno adalah pemuda kampung yang taat agama, meski terkadang taat meminum pigur juga. Marno kalah cepat dalam arena lamaran, apalah daya, juragan Teguh punya segalanya dan Marno hanya punya cinta

Terkadang, setelah menghadap Sang Tuhan, Marno berfikir Marni adalah jodohnya. Dan menurutnya juragan brewok itu tak pantas dengan Marni, karna yang pntas dimatanya hanyalah dirinya sendiri. Marno berdoa agar mereka berpisah, doanya perlahan diijabah Tuhan. Beberapa hari terakhir Marni dan Marno sedang dekat, karena urusan duniawi yang tak seberapa. Urusan jual hasil panen sebelum masanya, itu hal biasa, meski agama tak membolehkan. Kehangatan yang Marno rasakan membuatnya yakin untuk bertindak lebih dari ini, tak lagi diam melihat mereka berdua, tak lagi mengintip mereka bergoyang di kebun bambu. Marno ingin Marni, ingin menjadi miliknya walau ia sadar, Marni milik Tuhannya.

Malam hari sembari menyerupt kopi dan bedua dengan bulan diantara ribuan bintang, Marno merencanakan niat baiknya. Ia ingin melenyapkan Juragan bewok itu dari dunia, itu adalah hal baik baginya. Sedang, perihal Marni, ia memutuskan untuk memeletnya, tapi bukan dengan pelet ikan yang kau gunakan saat memancing nila di empang.

Keesokan harinya, Marno berpakaian rapi, ia tak ke ladang atau bahkan ke koperasi untuk meminjam uang. Ia ke gunung, sebuah gunung tak kembar di kota tetangga dengan tujuan bertemu orang pintar. Di tempat yang remang, percis seperti tempat si bewok dan Marni bercumbu, Marno menyambangi rumah ki Gledek, nama bekennya. Dukun dengan segudang cengkeh di belakang rumahnya. Marno masih menikamti halaman depan rumah ki Gledek itu, di atas pintu ada kepala babi dan cicak. Marno heran, kenapa tidak cicak dan buaya saja, itu lebih seru menurutnya.

Setelah melewati pintu bewarna merah itu, Marno langsung ke ruang praktek sang dukun, yang terkadang katanya ia juga beradaptasi menjadi dukun bayi, maklum, di daerah itu akses kesehatan tak ada, dan mungkin jika ada, tak akan ada. Tanpa menyatakan permintaannya, sang dukun langsung memberi sesajen bagi kelangsungan niat baik Marno, sang dukun telah mengetahui segalanya. Marno pulang dengan membawa air bening yang telah dibacakan mantra ala kadarnya, kata sang dukun, air itu diminumkan ke Marni, kelak ia akan membangun cinta kepada Marno.

Setibanya di gerbang desa, Beruntunglah Marno bertemu dengan Marni yang baru saja pulang dari kota. Tanpa menyiakan waktu yang terkadang meremehkannya, Marno mendekat. “kamu dari kota ya” Tanya Marno ke gadis pujaannya, “udah tau nanya” jawab ketus sang pujaan hati. Mendengar hal tersebut, emosi Marno tesulut, ia langsung membekap Marni dan membawanya ke semak-semak. Ia lucuti semua yang ada tapi tak menyentuhnya, lalu ia siramkan air sesaji itu kesekujur tubuh Marni. Tak lama kemudian tubuh Marni berubah menjadi seekor lintah yang meronta. Tak lama ia berhenti  bergerak dan  mati mengenaskan. Marno sedih, akan kelakuannya. Ia dirasuki setan, kata hatinya. Itu bukan ulahnya, itu ulah setan.

Marno langsung lari ke rumah si bewok, ia memberitahu bahwa tunangannya sudah mati. Bewok menjerit, meronta. Tak lama bewoknya rontok satu persatu, membuatnya berubah menjadi lelaki tua yang renta. Dan lagi, ia rasa ada yang menguasai dirinya, Marno langsung mengambil arit yang tergantung di belakang pintu dan membunuh si tua renta. Ia pikir, si Bewok dan Marni telah bersekongkol melukai hatinya. Dimutilasinya si tua renta dan ditinggal tanpa kata perpisahan.

Di dalam hatinya, Marno merasa kepuasan tiada tara, tak lama, ia pejamkan mata dan menghirup oksigen dalam-dalam menikmati kemenangan. Namun sungguh terkagetnya ia ketika membuka mata, ternyata ia telah menjadi pocong yang sedang dicambuk oleh malaikat penjaga kubur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar