Aku langsung menuju
kamarku, mengunci pintu rapat-rapat dan tak membiarkan siapapun untuk masuk dan
mencoba mengintrogasiku mengenai kejadian sore tadi. Malam itu, sisa abu
vulkanik erupsi gunung kelud masih tebal menyelimuti lorong-lorong blok di perumahan
tempatku tinggal. Abunya lumayan tebal, setebal pikirku yang masih saja kalut
memikirkan masa depan percintaan. Sebut saja ia mawar, tidak, jangan begitu,
kau tak akan membiarkan nama orang yang kau sayangi menjadi tak bagus,
menggunkan nama samaran, dan parahnya lagi istilah “sebut saja mawar” begitu
identik bagi para penjahat, sama seperti nama seorang mukicari yang disamarkan
polisi. Nama aslinya adalah Mona, guru teaterku. Ia masih muda, badannya masih
sekal, itu hasil ia rajin merawat diri kemanapun ia pergi dan bersama siapapun
ia pergi. Ia cukup tinggi bagi wanita seusianya, kira-kira tingginya mencukupi
syarat mengikuti kontes ratu-ratuan di negeri dongeng. Parasnya cantik, hidungnya
mancung seperti prosotan paud melati, rambutnya tergerai, membuatku meleleh di
kamar mandi. Bagi pria normal, ia sangat menarik untuk dijadikan isteri dan
pendamping saat pestaan. Ia pandai sekali berakting. Kata kawanku, dulu, ia
adalah primadona bersandiwara di masa sekolah, sebuah sekolah yang jauh dari tempat
prostitusi.
Ketertarikanku pada Bu
Mona terjadi 40 hari sebelum malam jum’at dimana banyak umat melaksanakan
sunnah nabi. Hari itu, ia baru pertama menemuiku di sekolah. Ia adalah guru
honorer seni dan ekskul teater juga. Gajinya tak akan cukup untuk sekedar
membeli make up, tapi, menurutnya, ini adalah ibadah, dan setiap ibadah akan
ada balasan dari Tuhan, meski ia butuh pemenor dan bensin. Tugasnya adalah
mengajarkan kami bagaimana cara mengkamuflasekan diri.
Selasa itu, pejabat ekskul
teater kumpul di kelas 7, kelasnya sederhana, sesederhana kamu mandi
menggunakan air biasa. Aku, Mahmud, Tiwi dan Tasya adalah pejabat ekskul yang
akan bernegosiasi dengan Bu Mona mengenai perkembangan teater kami kedepannya
dan menjelaskan apa saja yang telah kami lakukan pada periode sebelumnya,
mungkin hal ini biasa disebut laporan pertanggungjawaban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar