Sabtu, 15 Maret 2014

Bunga



Aku langsung menuju kamarku, mengunci pintu rapat-rapat dan tak membiarkan siapapun untuk masuk dan mencoba mengintrogasiku mengenai kejadian sore tadi. Malam itu, sisa abu vulkanik erupsi gunung kelud masih tebal menyelimuti lorong-lorong blok di perumahan tempatku tinggal. Abunya lumayan tebal, setebal pikirku yang masih saja kalut memikirkan masa depan percintaan. Sebut saja ia mawar, tidak, jangan begitu, kau tak akan membiarkan nama orang yang kau sayangi menjadi tak bagus, menggunkan nama samaran, dan parahnya lagi istilah “sebut saja mawar” begitu identik bagi para penjahat, sama seperti nama seorang mukicari yang disamarkan polisi. Nama aslinya adalah Mona, guru teaterku. Ia masih muda, badannya masih sekal, itu hasil ia rajin merawat diri kemanapun ia pergi dan bersama siapapun ia pergi. Ia cukup tinggi bagi wanita seusianya, kira-kira tingginya mencukupi syarat mengikuti kontes ratu-ratuan di negeri dongeng. Parasnya cantik, hidungnya mancung seperti prosotan paud melati, rambutnya tergerai, membuatku meleleh di kamar mandi. Bagi pria normal, ia sangat menarik untuk dijadikan isteri dan pendamping saat pestaan. Ia pandai sekali berakting. Kata kawanku, dulu, ia adalah primadona bersandiwara di masa sekolah, sebuah sekolah yang jauh dari tempat prostitusi. 

Ketertarikanku pada Bu Mona terjadi 40 hari sebelum malam jum’at dimana banyak umat melaksanakan sunnah nabi. Hari itu, ia baru pertama menemuiku di sekolah. Ia adalah guru honorer seni dan ekskul teater juga. Gajinya tak akan cukup untuk sekedar membeli make up, tapi, menurutnya, ini adalah ibadah, dan setiap ibadah akan ada balasan dari Tuhan, meski ia butuh pemenor dan bensin. Tugasnya adalah mengajarkan kami bagaimana cara mengkamuflasekan diri. 

Selasa itu, pejabat ekskul teater kumpul di kelas 7, kelasnya sederhana, sesederhana kamu mandi menggunakan air biasa. Aku, Mahmud, Tiwi dan Tasya adalah pejabat ekskul yang akan bernegosiasi dengan Bu Mona mengenai perkembangan teater kami kedepannya dan menjelaskan apa saja yang telah kami lakukan pada periode sebelumnya, mungkin hal ini biasa disebut laporan pertanggungjawaban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar