Jumat, 21 Maret 2014

Nenek Lampir



“Saya terima nikah dan kawinnya anak bapak dengan mas kawin seperangkat alat solat beserta mushola dan marbot-marbotnya dibayar tunai” ku duga, itu adalah dialog ijab-kabul terkonyol yang pernah ada. Itu adalah ijab-kabul antara Marno dan Marni, pasangan sejati dari sorga. Itu adalah akad sakral yang hanya sekali seumur hidup diucapkan, hanya akadnya saja, tidak dengan perkawinan itu, setidaknya itulah yang diutarakan Marni padaku. 

Perkawinan yang tercatat pada tanggal 14 Februari 2014 adalah hasil jodoh menjodohkan oleh Nenek Lampir, ibu Marno, yang menjodohkan anak semata wayangnya dengan Marni. Sebenarnya, itu adalah jodoh yang dipaksaan oleh nenek busuk itu, apalah daya, ia adalah pakar tenung, mudah saja baginya membuat Marni terpikat oleh anaknya yang masih saja tak berguna.

Sejak tanggal itu, Marni tinggal di rumah mertua tak indah, kau tau, rumahnya memang tak indah, tak terawat, seperti rumah hantu dalam film hantu. Marni jadi babu, tak lagi jadi bunga desa yang menyebarkan wewangian. Kini, yang ada hanya wangi bacin keringatnya, itu ulah nenek busuk, nenek lampir.

Marni memasak, mencuci piring, mengepel dan semua pekerjaan rumah lainya ia lakukan sendiri, ia lemah, ia tak tahan. Suatu siang yang cerah, Marni pingsang karena terjatuh tertimpa besi jemuran pakian. Bayangkan, nenek busuk itu menggunkan besi untuk menjemur, luar biasa bukan? yang ku tau, sederhananya tali jemuran itu terbuat dari tali, tali tambang, tali plastik, tali kolor pun jadi, tapi nenek busuk itu pakai besi, sungguh licik!

Kepala Marni benjol dan ia harus di rawat di rumah sakit dan nenek busuk itu nyiyir dan berkata bahwa apa yang dialamai Marni adalah berlebihan, alay, lebay katanya, seperti cabe-cabean. Mengetahui hal itu Marni mencoba sabar dan mengelus dadanya sendiri yang tak sebesar milik jupe. Ia pasrah, ia lelah.

Setelah beberapa hari di rumah sakit agar sembuh, akhirnya ia pulang bersama pulih, tapi, kini yang sakit si nenek busuk itu. Jantungnya mendadak sakit mendengar sang anak harus membayar biaya rumah sakit sang menantu yang sangat mahal, makanya ia sakit dan berasa akan mati, padahal ia iri.

Marni melakukan apa yang telah nenek busuk itu lakukan kepadanya, si busuk itu lebay, berlebihan. Marni tak perduli dan ingin si busuk itu mati. 14 jam dari kejadian itu, si nenek busuk pun benar-benar mati. Info terakhir yang kuperoleh ia mati dibunuh Marno, anaknya sendiri yang sebenarnya adalah suami asli dari nenek sihir yang juga sama-sama ahli tenung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar