Dasar-dasar produksi film adalah acuan sebelum memproduksi sebuah
film, diantaranya:
a.
Penulisan dan penyutradaraan
Menjabarkan dasar-dasar penulisan cerita untuk membuat film,
penyusunan riset untuk film dokumenter, dan penerapan pembuatan sinopsis, director
treatment, shootlist, script breakdown dan shooing schedule. Materi
mencakup: penulisan, penyutradaraan pada tahap pra produksi, produksi dan pasca
produksi.
emetb. sinamatografi
Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris cinematograhy
yang berasal dari bahasa latin kinema ‘gambar‘. Sinematografi
sebagai ilmu serapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik
menangkap gambar dan menggabung gabungkan gambar tersebut hingga menjadi
rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide.
Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni
menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka
peralatannya pun mirip. Perbedaannya fotografi menangkap gambar tunggal,
sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada
fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi
memanfaatkan rangkaian gambar.Jadi sinematografi adalah gabungan antara
fotografi dengan teknik rangkaian gambar atau dalam sinematografi disebut
montase atau montage.
Sinematografi tidaklah hanya melihat melalui kamera dan mengambil
gambar. Namun tentu saja memerlukan mata yang tajam dan imaginasi yang kreatif.
Ini juga memerlukan pengetahuan tentang kimia dan fisika, persepsi sensor yang
tepat dan tetap fokus kepada detail. Hampir dari semua itu memerlukan kemampuan
untuk memimpin dan juga mendengar, untuk menjadi bagian dari tim kreatif dan
proses, dapat dengan memberikan saran yang membangun dan kritis. Sinematografer
memerlukan waktu yang panjang dalam pekerjaannya dan memerlukan pengamat, waktu
yang pendek untuk masuk ke dunia yang baru.
Kemudian menjelaskan tentang pengoperasian kamera dengan baik serta
cara pemeliharaannya, proses perekaman yang dapat menghasilkan gambar dan suara
yang baik serta mengasah inisiatif untuk menyesuaikan diri dengan keterbatasan
alat. Meteri mencakup: dasar-dasar sinematografi, pengenalan teknologi kamera,
teknik pengambilan gambar, tata cahaya dan kamera saat produksi.
c.
Tata Suara
Menguraikan dasar-dasar audio pada proses produksi film, baik yang
dilakukan ketika perekaman suara saat pengambilan gambar, maupun kebutuhan
pengisian suara saaat pasca produksi. Materi mencakup: dialog, music dan efek
suara.
d.
Tata Artistik
Menjelasakn tugas-tugas yang harus dilakukan oleh departemen
artistic dan mengaplikasaikan sinopsis dan director treatment menjadi
breakdown artistik. Materi mencakup: tata busana, tata rias, begian set
lokasi, properti dan efek spesial.
e.
Editing
Menjelaskan teori editing, teori dasar editing, pengoperasian komputer
untuk editing. Kemudian memberikan pemahaman tentang pola piker editing pada
tahap produksi film dan penerapan konsep editing (paper edit). Materi
mencakup: sekilas tentag editing, tahapan editing, istilah teknis editing.
f.
Pesan
Membuat film adalah proses menyampaikan pesan kepada penonton. Penyampaian
pesan tersebut dapat melalui dua cara, yakni pesan verbal dan non verbal.
1.
Pesan verbal
Pesan verbal dalam proses komunikasi berkaitan dengan kata, makna
dan cara berfikirnya. Pemilihan kata dan makna dalam film harus dilakukan,
khususnya pada dialog atau narasi.Kata hanya bermakna bila telah dirujuk pada
sejumlah referen, karena penontonlah yang akan memaknainya setelah memikirkan
adegan tersebut.
Pemilihan dan penggunaan kata, baik dalam dialog, maupun monolog
(narasi) hendaknya dengak kata-kata yang memaknai sebuah adegan dengan bahasa
yang baik, serta diketahui secara umum (mudah dimengerti) dan tidak dengan
kata-kata yang kurang baik. Selanjutnya, penggunaan kata mempengaruhi batasan
usia penonton, apakah anak-anak, remaja, dewasa atau semua umur.
2.
Pesan non verbal
Pesan non verbal mencakup segala ungkapan yang tidak disadari dalam
bentuk gerak, isyarat, gerak tubuh, air muka, nada atau suara dan tarikan
nafas. Penggunaan pesan non verbal dalam film biasanya untuk adegan-adegan
detail dan menjelskannya. Selanjutnya perilaku non verbal dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
·
Body motion/ kinesics
behavior, termasuk di dalamnya gesture (gerak isyarat), gerakan tubuh,
pernyataan air muka, gerakan mata.
·
Physical Characteriscic (karakteristik
fisik), termasuk di dalamnya tanda-tanda
fisik yang tak bergerak, seperti berat dan tinggi badan, dan sebagainya.
·
Teaching Bhevior yaitu
perilaku-perilaku dalam kontak dengan orang lain, seperti usapan, bersalaman,
memegang dan sebagainya yang bersifat sentuhan.
·
Paralanguage, yaitu hal-hal
yang berhubungan dengan lisan/bahsa/suara, termasuk kualitas bahasa seperti
tekanan suara, irama/ritme, tempo, artikulasi, intonasi dan katakteristinya.
·
Praxemics, penggunaan
jarak/pendekatan
·
Artifac, yaitu
penggunaan lipstick, kacamata, bando, dll.
·
Environmental Factor, penggunaan
perabotan, dekorasi, interior, lampu-lampu, gradasi warna, musik dan suara.
Untuk lebih
memahami penjabaran di atas, berikut ini adalah contoh perilaku non verbal
·
Erect head (kepala tegak),
artinya percaya diri, harga diri dan berani.
·
Bowed head (kepala
tunduk), artinya kerendahan hati, pengunduran diri, rasa bersalah, kepatuhan.
·
Touching nose (memegang
hidung), artinys cemas, ketakutan untuk tampil di depan umum/ demam panggung.
·
Rapid eye blinking (kedipan mata
yang cepat),artinya sedang berpikir, keraguan, sulit mencari jawaban.
·
Artificial cough (batuk
buatan), artinya kritik, meragukan, heran, cemas.
·
Whistling of humming
(bersiul/bernyanyi kecil), artinya percaya diri.
·
Pressing head with hand (menekan
kepala dengan tangan), artinya mengalami banyak kesukaran, keputusasaan,
ketidakberdayaan.
·
Placing index finger alongside the
nose
(meletakkan telunjuk di sisi hidung), artinya keadaan sedih, kepayahan,
kelelahan, curiga.
·
Closing ears with hands (menutup
telinga), artinya tidak mau mendengarkan.
·
Forming ring with finger (membentuk
cincin dengan jari), artinya persatuan, kepuasaan.
·
Rubbing thumb and middle thumb
(menggosok-gosokkan ibu jari dengan jari tengah), artinya mencari solusi.
·
Finger or knuckle-eracking
(menggosok-gosokkan jari atau buku jari) artinya frustasi, agresi, permusuhan.
Hal di atas
akan membantu sineas dalam menjabarkan film yang akan diproduksi serta sebagai
identifikasi tokoh-tokoh dalam film agar mendapatkan pemaian sesuai karakter
dalam tokoh yang akan ia perankan. Selanjutnya membantu rencana adegan dalam
film tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar