Minggu, 30 Maret 2014

Dasar-Dasar Produksi Film



Dasar-dasar produksi film adalah acuan sebelum memproduksi sebuah film, diantaranya:

a.    Penulisan dan penyutradaraan
Menjabarkan dasar-dasar penulisan cerita untuk membuat film, penyusunan riset untuk film dokumenter, dan penerapan pembuatan sinopsis, director treatment, shootlist, script breakdown dan shooing schedule. Materi mencakup: penulisan, penyutradaraan pada tahap pra produksi, produksi dan pasca produksi.

emetb. sinamatografi
Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris cinematograhy yang berasal dari bahasa latin kinema ‘gambar‘. Sinematografi sebagai ilmu serapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung gabungkan gambar tersebut hingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide.

Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannya pun mirip. Perbedaannya fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar.Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik rangkaian gambar atau dalam sinematografi disebut montase atau montage.

Sinematografi tidaklah hanya melihat melalui kamera dan mengambil gambar. Namun tentu saja memerlukan mata yang tajam dan imaginasi yang kreatif. Ini juga memerlukan pengetahuan tentang kimia dan fisika, persepsi sensor yang tepat dan tetap fokus kepada detail. Hampir dari semua itu memerlukan kemampuan untuk memimpin dan juga mendengar, untuk menjadi bagian dari tim kreatif dan proses, dapat dengan memberikan saran yang membangun dan kritis. Sinematografer memerlukan waktu yang panjang dalam pekerjaannya dan memerlukan pengamat, waktu yang pendek untuk masuk ke dunia yang baru.

Kemudian menjelaskan tentang pengoperasian kamera dengan baik serta cara pemeliharaannya, proses perekaman yang dapat menghasilkan gambar dan suara yang baik serta mengasah inisiatif untuk menyesuaikan diri dengan keterbatasan alat. Meteri mencakup: dasar-dasar sinematografi, pengenalan teknologi kamera, teknik pengambilan gambar, tata cahaya dan kamera saat produksi.

c.    Tata Suara
Menguraikan dasar-dasar audio pada proses produksi film, baik yang dilakukan ketika perekaman suara saat pengambilan gambar, maupun kebutuhan pengisian suara saaat pasca produksi. Materi mencakup: dialog, music dan efek suara.

d.    Tata Artistik
Menjelasakn tugas-tugas yang harus dilakukan oleh departemen artistic dan mengaplikasaikan sinopsis dan director treatment menjadi breakdown artistik. Materi mencakup: tata busana, tata rias, begian set lokasi, properti dan efek spesial.
e.    Editing
Menjelaskan teori editing, teori dasar editing, pengoperasian komputer untuk editing. Kemudian memberikan pemahaman tentang pola piker editing pada tahap produksi film dan penerapan konsep editing (paper edit). Materi mencakup: sekilas tentag editing, tahapan editing, istilah teknis editing.

f.     Pesan
Membuat film adalah proses menyampaikan pesan kepada penonton. Penyampaian pesan tersebut dapat melalui dua cara, yakni pesan verbal dan non verbal.
1.    Pesan verbal
Pesan verbal dalam proses komunikasi berkaitan dengan kata, makna dan cara berfikirnya. Pemilihan kata dan makna dalam film harus dilakukan, khususnya pada dialog atau narasi.Kata hanya bermakna bila telah dirujuk pada sejumlah referen, karena penontonlah yang akan memaknainya setelah memikirkan adegan tersebut.

Pemilihan dan penggunaan kata, baik dalam dialog, maupun monolog (narasi) hendaknya dengak kata-kata yang memaknai sebuah adegan dengan bahasa yang baik, serta diketahui secara umum (mudah dimengerti) dan tidak dengan kata-kata yang kurang baik. Selanjutnya, penggunaan kata mempengaruhi batasan usia penonton, apakah anak-anak, remaja, dewasa atau semua umur.

2.    Pesan non verbal
Pesan non verbal mencakup segala ungkapan yang tidak disadari dalam bentuk gerak, isyarat, gerak tubuh, air muka, nada atau suara dan tarikan nafas. Penggunaan pesan non verbal dalam film biasanya untuk adegan-adegan detail dan menjelskannya. Selanjutnya perilaku non verbal dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
·      Body motion/ kinesics behavior, termasuk di dalamnya gesture (gerak isyarat), gerakan tubuh, pernyataan air muka, gerakan mata.
·      Physical Characteriscic (karakteristik fisik), termasuk di dalamnya  tanda-tanda fisik yang tak bergerak, seperti berat dan tinggi badan, dan sebagainya.
·      Teaching Bhevior yaitu perilaku-perilaku dalam kontak dengan orang lain, seperti usapan, bersalaman, memegang dan sebagainya yang bersifat sentuhan.
·      Paralanguage, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan lisan/bahsa/suara, termasuk kualitas bahasa seperti tekanan suara, irama/ritme, tempo, artikulasi, intonasi dan katakteristinya.
·      Praxemics, penggunaan jarak/pendekatan
·      Artifac, yaitu penggunaan lipstick, kacamata, bando, dll.
·      Environmental Factor, penggunaan perabotan, dekorasi, interior, lampu-lampu, gradasi warna, musik dan suara.
Untuk lebih memahami penjabaran di atas, berikut ini adalah contoh perilaku non verbal
·      Erect head (kepala tegak), artinya percaya diri, harga diri dan berani.
·      Bowed head (kepala tunduk), artinya kerendahan hati, pengunduran diri, rasa bersalah, kepatuhan.
·      Touching nose (memegang hidung), artinys cemas, ketakutan untuk tampil di depan umum/ demam panggung.
·      Rapid eye blinking (kedipan mata yang cepat),artinya sedang berpikir, keraguan, sulit mencari jawaban.
·      Artificial cough (batuk buatan), artinya kritik, meragukan, heran, cemas.
·      Whistling of humming (bersiul/bernyanyi kecil), artinya percaya diri.
·      Pressing head with hand (menekan kepala dengan tangan), artinya mengalami banyak kesukaran, keputusasaan, ketidakberdayaan.
·      Placing index finger alongside the nose (meletakkan telunjuk di sisi hidung), artinya keadaan sedih, kepayahan, kelelahan, curiga.
·      Closing ears with hands (menutup telinga), artinya tidak mau mendengarkan.
·      Forming ring with finger (membentuk cincin dengan jari), artinya persatuan, kepuasaan.
·      Rubbing thumb and middle thumb (menggosok-gosokkan ibu jari dengan jari tengah), artinya mencari solusi.
·      Finger or knuckle-eracking (menggosok-gosokkan jari atau buku jari) artinya frustasi, agresi, permusuhan.    
Hal di atas akan membantu sineas dalam menjabarkan film yang akan diproduksi serta sebagai identifikasi tokoh-tokoh dalam film agar mendapatkan pemaian sesuai karakter dalam tokoh yang akan ia perankan. Selanjutnya membantu rencana adegan dalam film tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar