Selasa, 10 Desember 2013

KELUARGA TERAKHIR

KELUARGA TERAKHIR

Namaku Dinda Saputri, anak pertama dari dua bersaudara yang tinggal bersama ayah dan bunda dalam keluarga kecil bahagia. Setiap pagi, bunda selalu membangunkanku untuk solat subuh nerjamaah di rumah, sedangkan Raka, adikku, dibangunkan oleh ayah. Setelah solat, terkadang aku dan Raka bertengkar layaknya anak kecil yang berebut untuk mandi terlebih dahulu pabila aku ada jadwal kuliah pagi. Aku mahasiswi jurusan desain grafis karena  cita-citaku menjadi seorang desainer.

Raka Saputra, adik cowokku yang masih duduk di kelas 1 SMA, dia selalu bilang kalo dia itu ganteng, dan fisikli, emang dia ganteng. Dia jadi anak kesayangan ayah, yang kini bekerja di Kantor Pemda tempat kami tinggal, apapun yang ia inginkan pasti terkabul. Sedangkan aku lebih dekat dengan bunda, seorang guru kimia di madrasah aliyah temapatku sekolah dulu.

Setiap hari selalu berjalan lancar, sampai suatu ketika, aku hendak pergi ke kampus dengan suasana hujan yang agak deras, aku terpeleset saat berlari menuju ruang kuliah. Sejak saat itu, aku menderita gagar otak, yang membuatku merasa sakit ketika mengingat sesuatu dan bertambah parah karena penglihatanku juga mulai melemah.

Sejak itu, ayah dan bunda memberikan perhatian lebih terhadapku. Sedangkan Raka, merasa sendiri akibat situasi ini, ditambah baru saja ia diselingkuhi pacarnya. Aku merasa tak tega, namun tak sanggup berbuat apa-apa.  Sebulan berjalan, kondisiku tak berubah, dan suasana rumah yang tak seperti dulu, membuat Raka pergi dari rumah.

Aku rasa, dia hanya ingin mencari ketengangan sejenak. Namun, setelah beberapa hari tak ada kabar darinya, kami memutuskan untuk  mencarinya. Diperjalan mencari Raka, mobil yang kami kendarai mengalami kecelakaan yang membuat ayah dan bunda meninggal, sedangkan, aku terluka parah dibagian wajah serta mataku akibat serpihan kaca.

Setelah kejadian itu, Raka kembali ke rumah dengan keadaan yang hampir tak ku kenali.  Dipelipis matanya terdapat bekas jahitan. Entah apa penyebabnya, aku tak tahu pasti, yang jelas ia telah kembali bersamaku.

Lambat laun kondisiku membaik, daya ingat dan penglihatanku kembali seperti semula dan untuk memenuhi kebutuhan hidup, aku bekerja sebagai seorang web desain yang memudahkanku bekerja di rumah karena kondisi Raka yang sangat lemah. Ia tak lagi dapat melihat dengan dengan jelas, sepertinya ia mengalami kebutaan. Sejak saat itu ia tak lagi bersekolah dan hanya membantuku di rumah.

Suatu hari aku mengalami tekanan yang sangat menyiksa, keluhan dari komsumen, perlakuan orang-orang terhadap keluargaku serta kondisi Raka yang semakin parah. Aku terbawa emosi, sehingga membuat Raka pergi dari rumah. Awalnya aku tak merasa bersalah, namum aku merasa kehilangan sosok yang membuatku aman.

Akhirnya aku mencari Raka, rumah temannya, rumah sakit, bahkan kantor polisi telah kudatangi, namun hasilnya nihil. Suatu pagi aku hendak berziarah ke makam kedua orang tuaku, sungguh terkagetnya saat aku melihat makam dengan nisan yang tertulis Raka Saputra berada di sebelah makam ayah.

Tumpahan air mata ini tak dapat ku bending lagi. Tak lama, ada seorang kakek menghamipi. Kakek itu adalah penjaga makam. Kakek menceritakan segalanya, sekitar seminggu yang lalu, Raka mengunjungi makam orang tua kami sambil menangis, dan tertidur di atas makam ayah, sehingga sang kakek mengajaknya tinggal di rumahnya. 

Di rumah kakek, Raka menceritakan semua. Semuanya Raka ceritakan tanpa ada yang terlewat. Dari cerita kakek, aku mengetahui mata yang aku gunakan adalah hasil donor dari raka yang membuatnya buta dan lemah. Aku semakin merasa bersalah yang membuatku tak kuasa lagi dengan kenyataan ini.

Setelah kakek menenangkannku, aku pun pulang. Setibanya di rumah, peurtku berteriak, minta jatah. Aku ke dapur, memasak mie instan berkuah. Aku masih sedih, sangat sedih. Ketika aku lihat foto keluarga di dinding bercat biru. Air mataku tertumpah, bercampur darah dari lengan yang sengaja ku sayat untuk berjumpa dengan mereka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar