KELUARGA TERAKHIR
Namaku
Dinda Saputri, anak pertama dari dua bersaudara yang tinggal bersama ayah dan
bunda dalam keluarga kecil bahagia. Setiap pagi, bunda selalu membangunkanku
untuk solat subuh nerjamaah di rumah, sedangkan Raka, adikku, dibangunkan oleh
ayah. Setelah solat, terkadang aku dan Raka bertengkar layaknya anak kecil yang
berebut untuk mandi terlebih dahulu pabila aku ada jadwal kuliah pagi. Aku
mahasiswi jurusan desain grafis karena
cita-citaku menjadi seorang desainer.
Raka
Saputra, adik cowokku yang masih duduk di kelas 1 SMA, dia selalu bilang kalo
dia itu ganteng, dan fisikli, emang dia ganteng. Dia jadi anak kesayangan ayah,
yang kini bekerja di Kantor Pemda tempat kami tinggal, apapun yang ia inginkan
pasti terkabul. Sedangkan aku lebih dekat dengan bunda, seorang guru kimia di
madrasah aliyah temapatku sekolah dulu.
Setiap
hari selalu berjalan lancar, sampai suatu ketika, aku hendak pergi ke kampus
dengan suasana hujan yang agak deras, aku terpeleset saat berlari menuju ruang
kuliah. Sejak saat itu, aku menderita gagar otak, yang membuatku merasa sakit
ketika mengingat sesuatu dan bertambah parah karena penglihatanku juga mulai
melemah.
Sejak
itu, ayah dan bunda memberikan perhatian lebih terhadapku. Sedangkan Raka,
merasa sendiri akibat situasi ini, ditambah baru saja ia diselingkuhi pacarnya.
Aku merasa tak tega, namun tak sanggup berbuat apa-apa. Sebulan berjalan, kondisiku tak berubah, dan
suasana rumah yang tak seperti dulu, membuat Raka pergi dari rumah.
Aku
rasa, dia hanya ingin mencari ketengangan sejenak. Namun, setelah beberapa hari
tak ada kabar darinya, kami memutuskan untuk mencarinya. Diperjalan mencari Raka, mobil
yang kami kendarai mengalami kecelakaan yang membuat ayah dan bunda meninggal,
sedangkan, aku terluka parah dibagian wajah serta mataku akibat serpihan kaca.
Setelah
kejadian itu, Raka kembali ke rumah dengan keadaan yang hampir tak ku
kenali. Dipelipis matanya terdapat bekas
jahitan. Entah apa penyebabnya, aku tak tahu pasti, yang jelas ia telah kembali
bersamaku.
Lambat
laun kondisiku membaik, daya ingat dan penglihatanku kembali seperti semula dan
untuk memenuhi kebutuhan hidup, aku bekerja sebagai seorang web desain yang
memudahkanku bekerja di rumah karena kondisi Raka yang sangat lemah. Ia tak lagi
dapat melihat dengan dengan jelas, sepertinya ia mengalami kebutaan. Sejak saat
itu ia tak lagi bersekolah dan hanya membantuku di rumah.
Suatu
hari aku mengalami tekanan yang sangat menyiksa, keluhan dari komsumen,
perlakuan orang-orang terhadap keluargaku serta kondisi Raka yang semakin
parah. Aku terbawa emosi, sehingga membuat Raka pergi dari rumah. Awalnya aku
tak merasa bersalah, namum aku merasa kehilangan sosok yang membuatku aman.
Akhirnya
aku mencari Raka, rumah temannya, rumah sakit, bahkan kantor polisi telah
kudatangi, namun hasilnya nihil. Suatu pagi aku hendak berziarah ke makam kedua
orang tuaku, sungguh terkagetnya saat aku melihat makam dengan nisan yang
tertulis Raka Saputra berada di sebelah makam ayah.
Tumpahan
air mata ini tak dapat ku bending lagi. Tak lama, ada seorang kakek menghamipi.
Kakek itu adalah penjaga makam. Kakek menceritakan segalanya, sekitar seminggu
yang lalu, Raka mengunjungi makam orang tua kami sambil menangis, dan tertidur
di atas makam ayah, sehingga sang kakek mengajaknya tinggal di rumahnya.
Di
rumah kakek, Raka menceritakan semua. Semuanya Raka ceritakan tanpa ada yang terlewat.
Dari cerita kakek, aku mengetahui mata yang aku gunakan adalah hasil donor dari
raka yang membuatnya buta dan lemah. Aku semakin merasa bersalah yang membuatku
tak kuasa lagi dengan kenyataan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar