Waktu
Tik, tik, tik, tik, tik, tik
detik jarum jam berputar. Putaran yang selalu menjadi perhatian bagi Bagus.
Seorang anak lelaki yang menjadi pahlawan bagi keluarganya. Sehari-hari
sepulang sekolah ia selalu menemani sang ayah menjaga toko jam yang menjadi
satu-satunya ladang penghasilan.
Sabtu itu, menjadi hari yang
sangat dinantinya untuk menjaga toko sembari berkelana ke dunia fantasi. Hari ini, ia mengenakan kemeja putih. Ia
tampak tampan, ditambah jam
digital hitam yang mengikat di tangan kiri membuatnya lebih percaya diri di
depan wanita yang ia pilih. Mutiara, ya Mutiara bocah pujaan hatiya.
Mutiara adalah teman sekelas
yang yang ia suka. Rambutnya berponi, dibagian belakang terikat cepol. Membuat Bagus
melayang dalam impian ketika memandangnya. Hanya memandangnya saja ia dapat
melayang, tak lagi perlu menghisap kaleng lem dan menutupinya dengan baju.
Mutiara bak pencerah hari
sunyi Bagus dari kegelapan waktu. Seringkali Bagus menghayalkan senyum Tiara,
singkat namanya. Senyum khas yang terangkai rapi dengan gingsul di bagian kiri.
Hal itu memberi ketenangan bagi Bagus yang ia nanti.
Waktu pukul 14.14 WIB, setelah makan siang dengan menu yang tak ala kadarnya, menu itu adalah menu favoritnya,
gulai tempe. Bagus membiarkan diri terpojok di sudut toko yang tak begitu tua
meski banyak di sela-sela terdapat cat yang mengelupas dan meronta.
Bagus beralih ke dunia baru,
dunia yang mampu memberikan apa yang ia mau. Dunia dengan cahya. Bagus memutar
waktu sesuka hati. Dalam hati yang tak begitu suci. Ia putar waktu. Ia putar
lagi waktu, ia putar kembali semua yang telah terjadi. Tak lama dari itu, senyum
menghampiri wajahnya, ia kembali. Kembali merasa sunyi di dunia yang memberinya
kebosanan tanpa henti.
Perlahan, Bagus keluar dari
kelamnya hidup di sudut toko waktu. Menghirup dalam-dalam oksigen yang digratiskan
Tuhan. Memandang jalan, menatap tingkah semua yang ada di hadapan. Dan kini,
seorang mahasiswi yang memiliki ciri seperti Mutiara berdiri tepat di
hadapnya.
“Bisa genti batu jam kan dek”
ujar mahasiswi.
Dengan
awal senyuman, Bagus menjawab. “wah di sini jual baterai jam mba, bukan batu
jam, jadi gak bias mba, hehe”. Gadis itu tersenyum dan perlahan melepas jam
kulit miliknya.
Bagus
gembira, namun kegembiraan itu tak akan ia bagi untuk siapapun. Menurutnya,
menyenangkan orang lain adalah perihal mudah. Namum, membahagiakan diri
senidiri adalah sebuah upaya.
Bagus
langsung masuk ke dalam dan mempersiapkan alat tempurnya. Sang ayah tetap duduk
di kusri depan meja kayu pemberian kakek sembari menghitung kertas yang
bertuliskan angka. Angka yang pasti membuatnya galau dan risau. Ya,
itulah ayah terhebat baginya. Perlahan dengan hati-hati, Bagus melepas penutup
baterai jam kulit berwarna coklat. Bagi anak seusianya, ia adalah penyedia jasa
waktu yang tiada duanya, tiada tandingan.
Tugasnya
ia laksanakan sembari perlahan mencuri pandang dan berharap mendapat senyuman
dari gadis yang ia pikir sebagai Tiara di usia dewasa. Mahasiswi itu
melihat-lihat koleksi jam yang tertata rapi di etalase. Setelah selesai, Bagus
memanggilnya dengan senyum manja “mba, selesai”. Gaya manja seperti balita yang
ingin disuapi ibunya.
Waktu yang ia benci pun
datang. Waktu berpisah dengan gadis berkemeja merah dan levis hitam.
Raut wajah sayu menghinggap, mengawali tarikan nafas dalam-dalam, tanda ketidak
nyamanan. Raut sayu Bagus menjadi alasan
sang ayah menutup pintu rezekinya lebih cepat dan membiarkan waktu dalam
kegelapan.
Bagus mendapat pencerahan dari
cahaya yang ia ikuti. Ia kembali ke sudut toko. Kembali memutar waktu untuk
bersama mahasiswi itu. Di dunia barunya, Bagus kembali melihat Tiara dewasa
melempar senyum ke arahnya. Sadarilah, melempar senyuman itu tidak sopan. Kau
melempar, bukan memberi!. Perlahan Bagus tatap dalal-dalam, seolah waktu itu tak
ingin terlewatkan dan berupaya menghentikan.
Tik, tik, tik, tik, tik, tik,
detik jarum jam berputar. Terus berputar bak roda kehidupan. Ia tak mampu
menghentikan waktu untuk kembali ke dunia asalnya. Bagus panik. Keringat
mengalir deras di belakang telinga, tanda kepasrahan.
Tik, tik, tik, detik jarum jam
berputar. Bagus melirik ke arah jam tua dan perlahan tatapannya turun melihat
sang ayah dan bunda merapati wajah sayunya yang telah kaku membisu diselimuti kain
putih tanpa noda.
ending nya :"
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus