Selasa, 10 Desember 2013

Waktu

Waktu

Tik, tik, tik, tik, tik, tik detik jarum jam berputar. Putaran yang selalu menjadi perhatian bagi Bagus. Seorang anak lelaki yang menjadi pahlawan bagi keluarganya. Sehari-hari sepulang sekolah ia selalu menemani sang ayah menjaga toko jam yang menjadi satu-satunya ladang penghasilan.

Sabtu itu, menjadi hari yang sangat dinantinya untuk menjaga toko sembari berkelana ke dunia fantasi. Hari ini, ia mengenakan kemeja putih. Ia  tampak tampan, ditambah  jam digital hitam yang mengikat di tangan kiri membuatnya lebih percaya diri di depan wanita  yang ia pilih. Mutiara, ya Mutiara bocah pujaan hatiya.

Mutiara adalah teman sekelas yang yang ia suka. Rambutnya berponi,  dibagian belakang terikat cepol. Membuat Bagus melayang dalam impian ketika memandangnya. Hanya memandangnya saja ia dapat melayang, tak lagi perlu menghisap kaleng lem dan menutupinya dengan baju.

Mutiara bak pencerah hari sunyi Bagus dari kegelapan waktu. Seringkali Bagus menghayalkan senyum Tiara, singkat namanya. Senyum khas yang terangkai rapi dengan gingsul di bagian kiri. Hal itu memberi ketenangan bagi Bagus yang ia nanti.

Waktu pukul 14.14 WIB, setelah makan siang dengan menu yang tak ala kadarnya, menu itu adalah menu favoritnya, gulai tempe. Bagus membiarkan diri terpojok di sudut toko yang tak begitu tua meski banyak di sela-sela terdapat cat yang mengelupas dan meronta.

Bagus beralih ke dunia baru, dunia yang mampu memberikan apa yang ia mau. Dunia dengan cahya. Bagus memutar waktu sesuka hati. Dalam hati yang tak begitu suci. Ia putar waktu. Ia putar lagi waktu, ia putar kembali semua yang telah terjadi. Tak lama dari itu, senyum menghampiri wajahnya, ia kembali. Kembali merasa sunyi di dunia yang memberinya kebosanan tanpa henti.

Perlahan, Bagus keluar dari kelamnya hidup di sudut toko waktu. Menghirup dalam-dalam oksigen yang digratiskan Tuhan. Memandang jalan, menatap tingkah semua yang ada di hadapan. Dan kini, seorang mahasiswi yang memiliki ciri  seperti Mutiara berdiri tepat di hadapnya.

“Bisa genti batu jam kan dek” ujar mahasiswi.
Dengan awal senyuman, Bagus menjawab. “wah di sini jual baterai jam mba, bukan batu jam, jadi gak bias mba, hehe”. Gadis itu tersenyum dan perlahan melepas jam kulit miliknya.
Bagus gembira, namun kegembiraan itu tak akan ia bagi untuk siapapun. Menurutnya, menyenangkan orang lain adalah perihal mudah. Namum, membahagiakan diri senidiri adalah sebuah upaya.
Bagus langsung masuk ke dalam dan mempersiapkan alat tempurnya. Sang ayah tetap duduk di kusri depan meja kayu pemberian kakek sembari menghitung kertas yang bertuliskan angka. Angka yang pasti membuatnya galau dan risau. Ya, itulah ayah terhebat baginya. Perlahan dengan hati-hati, Bagus melepas penutup baterai jam kulit berwarna coklat. Bagi anak seusianya, ia adalah penyedia jasa waktu yang tiada duanya, tiada tandingan.
Tugasnya ia laksanakan sembari perlahan mencuri pandang dan berharap mendapat senyuman dari gadis yang ia pikir sebagai Tiara di usia dewasa. Mahasiswi itu melihat-lihat koleksi jam yang tertata rapi di etalase. Setelah selesai, Bagus memanggilnya dengan senyum manja “mba, selesai”. Gaya manja seperti balita yang ingin disuapi ibunya.
Waktu yang ia benci pun datang. Waktu berpisah dengan gadis berkemeja merah dan levis hitam. Raut wajah sayu menghinggap, mengawali tarikan nafas dalam-dalam, tanda ketidak nyamanan.  Raut sayu Bagus menjadi alasan sang ayah menutup pintu rezekinya lebih cepat dan membiarkan waktu dalam kegelapan.

Bagus mendapat pencerahan dari cahaya yang ia ikuti. Ia kembali ke sudut toko. Kembali memutar waktu untuk bersama mahasiswi itu. Di dunia barunya, Bagus kembali melihat Tiara dewasa melempar senyum ke arahnya. Sadarilah, melempar senyuman itu tidak sopan. Kau melempar, bukan memberi!. Perlahan Bagus tatap dalal-dalam, seolah waktu itu tak ingin terlewatkan dan berupaya menghentikan.

Tik, tik, tik, tik, tik, tik, detik jarum jam berputar. Terus berputar bak roda kehidupan. Ia tak mampu menghentikan waktu untuk kembali ke dunia asalnya. Bagus panik. Keringat mengalir deras di belakang telinga, tanda kepasrahan.


Tik, tik, tik, detik jarum jam berputar. Bagus melirik ke arah jam tua dan perlahan tatapannya turun melihat sang ayah dan bunda merapati wajah sayunya yang telah kaku membisu diselimuti kain putih tanpa noda. 

2 komentar: