Octopus, Reanopus dan Pulau Rindu
Sore itu telihat seperti sore pada
umumnya. Senja ditunggu banyak orang untuk mendapatkan ketenangan. Sebuah pulau
tanpa padang pasir, layaknya pantai yang kau kunjungi saat menghabiskan akhir
pekan bersama sanak family. Pulau itu tak jauh dari peradaban
tersembunyi. Sebuah pulau yang dipageri semak alang setinggi bayi berusia 4,5
tahun dan dijaga ular korba yang tak menari.
Octopus dan Reanopus tiba di sana
untuk pertama kali secara bersama. Dan yakinlah, itu akan menjadi agenda seterusnya.
Setibanya mereka di sana, mereka disambut oleh pohon tak bersalah yang ditebang
dan mungkin hendak dijadikan arang. Ya, hingga arang menjadi abu tentunya.
"Abu" milik Octopus yang
dikomandani oleh Reanopus singgah di salah satu sudut bawah pohon, menyendiri
dari teman lain yang ada di sana. Octopus dan Reanopus mengembara,
membangkitkan cinta. Berayun, berseluncur dan terdiam menyaksikan kebodohan
kepiting yang tertipu perangkap besi.
Cinta pada mereka tampak begitu
jelas, dan pasti membuatmu iri. Mereka adalah dua alien aneh yang tersasar
mencari cahaya untuk diikuti. Octopus ingat betul, dan mungkin kau juga akan
yakin bahwa begitu besar rasa cintanya, rasa cinta kepada Reanopus.
Reanopus berbahagia, tertawa,
memetik dan mencium bunga. Itu lah Reanopus, gadis kecil milik Octopus yang
dipilihkan Tuhan untuknya. "Sugoi". Kata yang selalu terucap
ketika Reana, singkat namanya pabila menikmati hal yang ia cintai, termasuk
menikmati perannya mencintai Octopus.
Di pulau itu, mereka menjadi alien
indipenden. Tak sama dengan alien lainnya, yang hanya mengunci diri bersama
entah siapa dalam mobil dengan minimal gelap kaca 60%. Mesinnya dibiarkan
hidup, mengebulkan dugaan pikiran mereka sedang menikmati goyangan di dalam
tanpa pergerakan. Bayangkanlah, kawan. Bayangkan saja, tapi jangan kau lakukan.
"Jangan mendekat ke mobil itu,
nanti mereka terganggu !" Ucap Octopus kepada kekasihnya yang tak sabar
mendekat ke sebuah mobil tanpa hantu.
Reanopus tak menggubris ucapan
kekasihnya itu, ia hanya menoleh ke arah Octopus dan menyengirkan gigi yang
dibungkus senyuman. Dia cantik sekali, dia Reanopus milik Octopus. Reana
melangkah, berlali kecil dan terus melangkah meninggalkan Octopus yang tetap
mengejarnya. Ya, tetap mengejar dan menjaga cintanya.
Dua alien independen itu menuju ke
sebuah kapal karam yang mungkin sengaja dipertontonkan. Ya, kapal itu karam. Di
dalamnya ada cangkang tiram. Dan lagi, Reanopus berujar "sugoi"
dan Octopus sebagai kekasih yang baik, tak akan membiarkannya begitu saja. Ia
mengambil kamera dan mulai mengabadikannya, mengabadikan cinta mereka.
Octopus dan Reanopus adalah pasangan
alien yang aneh. Mereka serasi dalam pelukan Ilahi. Itulah sebait doa yang
dipanjatkan semesta untuk mereka ketika berlomba dengan senja mewujudkan cita
dan cinta. Dan yakinlah kawan, pulau itu menjadi pulau rindu Octopus dan
Reanopus sepanjang masa, sebelum masa benar-benar tiada.
Buat cerpen ny pulau tegal dong kak
BalasHapusoke, wait ya
BalasHapus