Selasa, 10 Desember 2013

Octopus, Reanopus dan Pulau Rindu

Octopus, Reanopus dan Pulau Rindu

Sore itu telihat seperti sore pada umumnya. Senja ditunggu banyak orang untuk mendapatkan ketenangan. Sebuah pulau tanpa padang pasir, layaknya pantai yang kau kunjungi saat menghabiskan akhir pekan bersama sanak family. Pulau itu tak jauh dari peradaban tersembunyi. Sebuah pulau yang dipageri semak alang setinggi bayi berusia 4,5 tahun dan dijaga ular korba yang tak menari.

Octopus dan Reanopus tiba di sana untuk pertama kali secara bersama. Dan yakinlah, itu akan menjadi agenda seterusnya. Setibanya mereka di sana, mereka disambut oleh pohon tak bersalah yang ditebang dan mungkin hendak dijadikan arang. Ya, hingga arang menjadi abu tentunya.

"Abu" milik Octopus yang dikomandani oleh Reanopus singgah di salah satu sudut bawah pohon, menyendiri dari teman lain yang ada di sana. Octopus dan Reanopus mengembara, membangkitkan cinta. Berayun, berseluncur dan terdiam menyaksikan kebodohan kepiting yang tertipu perangkap besi.

Cinta pada mereka tampak begitu jelas, dan pasti membuatmu iri. Mereka adalah dua alien aneh yang tersasar mencari cahaya untuk diikuti. Octopus ingat betul, dan mungkin kau juga akan yakin bahwa begitu besar rasa cintanya, rasa cinta kepada Reanopus.

Reanopus berbahagia, tertawa, memetik dan mencium bunga. Itu lah Reanopus, gadis kecil milik Octopus yang dipilihkan Tuhan untuknya. "Sugoi". Kata yang selalu terucap ketika Reana, singkat namanya pabila menikmati hal yang ia cintai, termasuk menikmati perannya mencintai Octopus.

Di pulau itu, mereka menjadi alien indipenden. Tak sama dengan alien lainnya, yang hanya mengunci diri bersama entah siapa dalam mobil dengan minimal gelap kaca 60%. Mesinnya dibiarkan hidup, mengebulkan dugaan pikiran mereka sedang menikmati goyangan di dalam tanpa pergerakan. Bayangkanlah, kawan. Bayangkan saja, tapi jangan kau lakukan.

"Jangan mendekat ke mobil itu, nanti mereka terganggu !" Ucap Octopus kepada kekasihnya yang tak sabar mendekat ke sebuah mobil tanpa hantu.

Reanopus tak menggubris ucapan kekasihnya itu, ia hanya menoleh ke arah Octopus dan menyengirkan gigi yang dibungkus senyuman. Dia cantik sekali, dia Reanopus milik Octopus. Reana melangkah, berlali kecil dan terus melangkah meninggalkan Octopus yang tetap mengejarnya. Ya, tetap mengejar dan menjaga cintanya.

Dua alien independen itu menuju ke sebuah kapal karam yang mungkin sengaja dipertontonkan. Ya, kapal itu karam. Di dalamnya ada cangkang tiram. Dan lagi, Reanopus berujar "sugoi" dan Octopus sebagai kekasih yang baik, tak akan membiarkannya begitu saja. Ia mengambil kamera dan mulai mengabadikannya, mengabadikan cinta mereka.


Octopus dan Reanopus adalah pasangan alien yang aneh. Mereka serasi dalam pelukan Ilahi. Itulah sebait doa yang dipanjatkan semesta untuk mereka ketika berlomba dengan senja mewujudkan cita dan cinta. Dan yakinlah kawan, pulau itu menjadi pulau rindu Octopus dan Reanopus sepanjang masa, sebelum masa benar-benar tiada.

2 komentar: